14. Seorang bhikkhu yang bodoh menginginkan ketenaran yang keliru, ingin menonjol di antara para bhikkhu, ingin berkuasa dalam vihara-vihara, dan ingin dihormati oleh semua keluarga.
Bulan demi bulan orang bodoh dapat memakan makanannya hanya dengan ujung sebatang rumput kusa, namun perbuatannya itu tidak bernilai sepadan dengan seperenam belas bagian dari kebijaksanaan orang yang merenungkan Dharma sejati.

Catatan Mendalam

Bagi orang yang tidak bijaksana, melakukan praktik tapa brata yang ekstrem atau menyiksa diri—seperti hanya makan sedikit sekali dari ujung sebatang rumput dari bulan ke bulan—tidak akan membawa manfaat spiritual yang sejati. Walaupun mengendalikan nafsu makan itu baik, menyiksa fisik secara berlebihan adalah kesia-siaan. Sang Buddha sendiri telah melewati masa enam tahun bertapa ekstrem dan akhirnya meninggalkan jalan tersebut karena menyadari bahwa tubuh yang lemah justru menghambat pelatihan batin. Jalan Tengah (Majjhima Patipada) mengajarkan kita untuk menggunakan makanan secukupnya demi mempertahankan tubuh agar dapat mempraktikkan Dharma, khususnya merenungkan Empat Kesunyataan Mulia. Praktik fisik yang ekstrem tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebijaksanaan yang diperoleh dari perenungan Dharma secara benar.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 70. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?