10. Selama buah dan suatu perbuatan jahat belum masak, maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu; tetapi apabila buah perbuatan itu telah masak, maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan.
Orang bodoh yang tidak tercerahkan berjalan seiring dengan musuh mereka. Demikian pula, mereka yang melakukan perbuatan buruk pasti akan menerima buah penderitaan bersama karma buruk tersebut.

Catatan Mendalam

Sebagai makhluk awam, kita sering hidup dalam lingkaran karma buruk karena batin kita diliputi oleh ketidaktahuan (avijja). Kebodohan batin ini mendorong kita melakukan perbuatan salah yang akhirnya menjadi musuh terbesar kita sendiri. Sang Buddha mengumpamakan hal ini seperti 'berjalan bersama musuh di jalan yang sama.' Ketika batin dipenuhi rasa bersalah dari perbuatan buruk, seperti menyakiti makhluk lain, penyesalan tersebut akan menyiksa kita dari dalam. Meskipun hukum duniawi tidak menghukum kita, penjara batin dan hati nurani yang tertekan akan terus menyiksa tanpa henti. Hukum karma sangatlah adil; perbuatan buruk pasti menghasilkan buah yang pahit, baik di kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu, Sang Buddha mengingatkan kita untuk segera sadar dan menimbun kebajikan agar memperoleh kedamaian, kebahagiaan, dan terbebas dari siksaan batin.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 66. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?