3. Setelah mengetahui bahwa tubuh ini bagaikan busa, dan menyadari sifat mayanya, maka hendaknya seseorang mematahkan bunga nafsu keinginan dan menghilang dari pandangan Raja Kematian.
Siapakah yang akan menaklukkan bumi ini, alam Yama ini dan alam manusia serta dewa ini? Siapakah yang akan menyempurnakan jalan kebijaksanaan yang diajarkan dengan baik seperti halnya seorang pembuat karangan bunga ahli membuat desain bunganya?

Catatan Mendalam

Bab ini berjudul 'Bunga' (Puppha Vagga). Sang Buddha menggunakan bunga sebagai analogi karena, di India kuno, merangkai bunga menjadi untaian adalah kebiasaan yang umum, sebuah praktik yang masih hidup hingga saat ini. Sang Buddha bertanya: siapakah yang dapat menaklukkan 'bumi' ini, alam neraka, hantu kelaparan, hewan, dan Asura, serta alam surgawi, dan dengan ahli mengajarkan Dharma seperti pembuat karangan bunga yang terampil merangkai bunga? Di sini, 'bumi' tidak merujuk pada tanah fisik di luar. Dalam kitab suci Buddhis, pikiran sering disebut sebagai 'tanah-pikiran' atau 'ladang-pikiran.' Sama seperti semua hal di dunia tumbuh dari tanah, semua pengalaman berasal dari pikiran. Ada sutra yang disebut 'Sutra Perenungan Tanah Pikiran.' Seorang guru Zen pernah menulis: 'Tanah-pikiran berisi semua benih; dibasahi oleh hujan Dharma, semuanya bertunas. Bunga Samadhi tidak berbentuk; apa yang dapat menghancurkannya, dan apa yang dapat membangunnya?' Empat alam rendah (neraka, hantu kelaparan, hewan, dan Asura) juga muncul dari pikiran. Kita tidak perlu menunggu sampai setelah kematian untuk mengalami alam-alam ini; mereka bermanifestasi dalam kehidupan kita saat ini. Neraka adalah keadaan kebodohan dan siksaan yang gelap. Alam hantu kelaparan adalah keinginan yang tak ada habisnya dan hasrat yang tak terpuaskan. Alam hewan adalah hidup tanpa moralitas, didorong oleh naluri buta. Alam Asura adalah kemarahan dan agresi yang berlebihan. Kita semua memiliki keadaan ini di dalam pikiran kita, dan mereka sering terlihat dalam perilaku lahiriah kita. Kita harus memeriksa diri kita sendiri dari waktu ke waktu untuk melihat di alam mana kita saat ini berdiam. Dengan demikian, kita sudah mengembara di Samsara saat masih hidup. Untuk melepaskan diri dari siklus ini, Sang Buddha mengajarkan kita untuk mempertahankan kesadaran dan kewaspadaan (mindfulness) yang jernih. Bahkan alam surgawi pun merupakan manifestasi dari pikiran. Sang Buddha menyimpulkan bait ini dengan mengajukan sebuah pertanyaan: 'Siapakah yang akan menyempurnakan jalan kebijaksanaan yang diajarkan dengan baik seperti halnya seorang pembuat karangan bunga ahli membuat desain bunganya?'

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 44. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?