40. IayangMulia,Agung, Pahlawan, PetapaAgung(Mahesi), Penakiuk, Orang Tanpa Nafsu, Murni, Telah Mencapai Penenangan, Maka ia Kusebut seorang Brahmana.
Orang yang tetap bersahabat di tengah mereka yang bermusuhan, tetap damai di tengah mereka yang keras dan penuh kekerasan, serta tidak melekat di tengah mereka yang terikat—dialah yang Kusebut seorang brahmana sejati.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana, berkaitan dengan empat samanera. Menurut kisahnya, sebuah keluarga Brahmana berniat mempersembahkan makan siang kepada empat pertapa terpilih. Sang istri menyiapkan makanan dan menyuruh suaminya mengundang empat Brahmana senior. Namun yang terundang justru empat samanera berusia tujuh tahun. Keempatnya sebenarnya telah mencapai tingkat arahat. Ketika sang istri melihat suaminya membawa pulang empat samanera kecil, ia sangat marah dan memarahi suaminya: “Engkau pergi ke wihara, tetapi membawa pulang empat anak kecil yang bahkan lebih muda daripada cucu-cucumu.” Alih-alih mempersilakan mereka duduk di tempat yang telah disiapkan, ia menyuruh mereka duduk di tempat lain. Lalu ia memerintahkan suaminya kembali ke wihara untuk mengundang empat orang lain. Kali ini sang suami mengundang Thera Sāriputta. Ketika Sāriputta tiba dan melihat keempat samanera duduk di sana, beliau bertanya apakah mereka sudah menerima makanan. Setelah mengetahui bahwa mereka belum disajikan makanan, beliau membawa mangkuknya dan pergi. Sang istri kembali menyuruh suaminya mengundang orang lain. Kali ini ia mengundang Thera Mahāmoggallāna. Sama seperti Sāriputta, ketika Mahāmoggallāna mengetahui bahwa para samanera belum menerima makanan, beliau pun pergi tanpa menerima persembahan. Sang istri kemudian memerintahkan suaminya untuk benar-benar mengundang seorang pertapa senior. Sementara itu, keempat samanera terus duduk tanpa dipersilakan makan, dan mereka merasa sangat lapar. Sakka, raja para dewa, melihat keadaan itu lalu menjelma sebagai seorang pertapa tua yang renta. Ketika sang suami melihatnya, ia segera mengundangnya, karena berpikir bahwa kali ini istrinya pasti akan puas. Namun begitu pertapa tua itu tiba, ia langsung memberi hormat kepada keempat samanera dan sama sekali tidak memperhatikan undangan sang istri. Ia kemudian duduk bersila di tempat rendah dekat para samanera. Melihat hal itu, pasangan suami istri tersebut mengira orang tua itu sudah pikun dan berusaha mengusirnya. Tetapi setiap kali mereka menariknya keluar, mereka tetap menemukan dia duduk kembali di tempat semula. Mereka menjadi sangat takut, lalu segera mempersilakan kelima orang itu menerima makanan. Setelah makan, masing-masing samanera terbang keluar melalui jendela yang berbeda. Ketika para samanera kembali ke wihara, para bhikkhu berkumpul mengelilingi mereka dan bertanya tentang kejadian saat menerima dana makanan. Para samanera menceritakan seluruh peristiwa itu. Setelah mendengarnya, para bhikkhu bertanya, “Ketika mereka memperlakukan kalian seperti itu, apakah kalian marah?” Keempatnya serempak menjawab, “Tidak marah.” Para bhikkhu tidak percaya, lalu melaporkan hal itu kepada Buddha. Buddha berkata, “Para bhikkhu, orang yang telah melenyapkan noda batin tidak menentang mereka yang menentangnya.” Syair ini menonjolkan kebajikan kelembutan, kesabaran, dan ketahanan batin: membangun persahabatan di tengah permusuhan, menjaga kedamaian di tengah kekerasan, dan tetap tidak melekat di tengah mereka yang melekat. Persahabatan sejati adalah semangat persaudaraan universal. Dalam pandangan welas asih dan kesetaraan Buddhisme, tidak ada seorang pun yang dianggap sebagai musuh. Sekalipun seseorang berniat jahat atau berusaha menyakiti, Buddhisme tetap memandangnya dengan belas kasih, bukan kebencian. Buddhisme tidak memandang rendah, membeda-bedakan, atau menolak kelompok manusia mana pun. Ia tidak melihat dunia melalui kacamata sempit sektarian. Buddhisme melihat semua makhluk memiliki hakikat dasar yang sama. Secara lahiriah, makhluk tampak berbeda karena tindakan dan kondisi mereka berbeda; namun bila dilihat secara mendalam, tidak ada pemisahan yang hakiki. Seperti sungai, danau, aliran kecil, dan samudra yang berbeda bentuk dan ukuran, tetapi semuanya adalah air, demikian pula semua makhluk memiliki satu hakikat yang sama. Buddhisme mengajarkan umatnya untuk melihat melampaui bentuk luar dan tidak terjebak pada penampilan. Semua fenomena berkondisi muncul karena sebab dan kondisi, tanpa inti diri yang tetap. Jika manusia melekat pada bentuk, identitas, dan perbedaan, maka pertikaian, kebencian, pertentangan, dan kekerasan akan muncul. Dengan pemahaman tentang tanpa-bentuk ini, Buddhisme berdiri di atas dan di luar sistem kekuasaan sempit yang menciptakan perpecahan, kebencian, dan saling menyakiti. Buddhisme menghormati martabat manusia dan kebebasan untuk berkembang secara spiritual. Ia mengajak umat manusia meninggalkan kecurigaan, prasangka, dan perbedaan yang kaku, lalu saling menggenggam tangan dalam kasih untuk membangun kedamaian, sukacita, dan kebahagiaan bagi semua. Inilah pesan damai yang Buddha sampaikan kepada dunia lebih dari dua puluh lima abad yang lalu. Namun hingga kini manusia belum sepenuhnya menyadarinya. Mereka masih tenggelam dalam kebodohan batin, pertikaian, kebencian, dan perang yang menghancurkan, sehingga menimbulkan penderitaan besar bagi semua. Selama manusia belum sungguh-sungguh mengenali persaudaraan, kemanusiaan bersama, air mata yang sama, dan cinta kasih yang sama, mereka akan terus menderita karena dikuasai nafsu dan ambisi yang merobek kasih sayang. Jika manusia ingin hidup tenteram dalam pelukan kasih satu sama lain, hanya ada satu jalan: sebagaimana diajarkan Buddha, mereka harus melepaskan pandangan sempit, kemelekatan, perebutan kekuasaan, serta menumbuhkan kelapangan hati, pengampunan, welas asih, dan saling mencintai. Dengan demikian barulah manusia dapat berharap hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan sejati.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 406. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?