38. Orang yang jejaknya tak dapat dilacak, baik oleh para dewa, gandharwa maupun manusia- telah menghancurkan semua kekotoran batin dan telah mencapai kesucian (Arahat), maka ia Kusebut seorang Brahmana. - 39. Orang yang tidak lagi terikat pada apa yang telah lampau, apa yang sekarang maupun yang akan datang, tidak memegang ataupun melekat pada apapun juga, maka ia I Kusebut seorang Brahmana.
Orang yang telah meninggalkan kekerasan terhadap semua makhluk, baik yang lemah maupun yang kuat, yang tidak membunuh dan tidak menyebabkan orang lain membunuh—dialah yang Kusebut seorang brahmana sejati.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana, berkaitan dengan seorang bhikkhu. Menurut kisahnya, Buddha memberikan sebuah objek meditasi kepada bhikkhu itu. Setelah menerimanya, ia pergi ke hutan yang dalam untuk berlatih dengan tekun, dan tidak lama kemudian ia mencapai tingkat arahat. Ia berpikir, “Aku sebaiknya melaporkan pencapaian ini kepada Bhagavā.” Lalu ia kembali ke wihara. Dalam perjalanan pulang, ketika melewati sebuah desa, ia melihat sepasang suami istri sedang bertengkar hebat. Sang suami pergi meninggalkan rumah dalam kemarahan. Setelah itu, sang istri yang sangat sedih juga pergi menuju rumah orang tuanya. Ia berjalan di jalan yang sama dengan bhikkhu itu dan mengikuti dari dekat di belakangnya. Bhikkhu itu terus berjalan dengan diam dan sama sekali tidak menoleh kepadanya. Setelah amarahnya mereda, sang suami kembali ke rumah. Melihat istrinya tidak ada, ia menduga istrinya pergi ke rumah orang tuanya. Ia segera mencarinya dan melihat bhikkhu itu berjalan di jalan yang sama dengan istrinya. Karena diliputi kecemburuan, ia mendekati bhikkhu itu dan mengancamnya, mengira bhikkhu tersebut telah membujuk istrinya pergi. Melihat hal itu, sang istri segera berseru, “Pertapa ini adalah seorang praktisi yang benar. Ia tidak melakukan apa pun yang tidak pantas terhadapku. Jangan menyakitinya.” Namun dalam kobaran cemburu, sang suami tidak menghiraukan perkataan istrinya dan memukuli bhikkhu itu dengan keras hingga tubuhnya penuh luka. Ketika bhikkhu itu kembali ke wihara, para bhikkhu lain merawat luka-lukanya. Setelah mengetahui sebabnya, mereka menghadap Buddha dan berkata, “Bhagavā, bhikkhu itu dipukuli hingga seluruh tubuhnya terluka, tetapi ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak marah kepada orang yang memukulnya. Apakah ia berkata tidak benar?” Buddha menjawab, “Para bhikkhu, orang yang telah melenyapkan noda batin telah meletakkan tongkat kekerasan. Walaupun orang lain memukulnya, ia tidak membalas dengan kemarahan.” Syair ini menekankan pengampunan, kelapangan hati, dan kesabaran. Hati yang luas dan mampu memaafkan tidak muncul dengan sendirinya. Ia harus dibangun melalui latihan yang sungguh-sungguh, dengan melenyapkan noda batin dan kekotoran mental, terutama tiga akar penderitaan: keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Dengan demikian barulah seseorang dapat memiliki hati luhur yang penuh welas asih dan cinta tanpa pamrih. Sebagai manusia biasa, hati kita sering dipenuhi kemarahan. Setiap kali menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan atau bertentangan dengan keinginan, kemarahan segera muncul. Bahkan sebelum seseorang menyentuh tubuh kita, kata-kata yang kasar, sindiran, ejekan, hinaan, atau provokasi saja sudah dapat membuat kemarahan berkobar. Jika kata-kata saja dapat membangkitkan amarah begitu kuat, apalagi ketika seseorang benar-benar menyerang dan memukul. Berapa banyak orang yang mampu bersabar dalam keadaan seperti itu? Kebanyakan orang akan dikuasai kemarahan. Dipukuli dan disakiti, tetapi tetap tenang tanpa sedikit pun dendam, adalah kemampuan seorang yang telah mencapai kesucian batin yang mendalam. Pada tingkat yang lebih rendah, seseorang yang telah cukup melatih kekuatan batin juga dapat menahan diri, sehingga tidak sampai membalas dengan kekerasan atau saling menyakiti. Karena telah berlatih kesabaran, ia mampu meredam ledakan kemarahan sesaat. Hal ini seperti pengemudi yang terlatih: ketika bahaya tiba-tiba muncul, ia dapat mengerem tepat waktu sehingga kecelakaan tidak terjadi. Kemampuan itu lahir dari latihan yang matang dan kewaspadaan yang terus-menerus. Orang yang melatih kesabaran harus memiliki welas asih dan cinta kepada semua makhluk. Karena memiliki kasih yang luas, ia tidak melekat pada rasa tersinggung atau dendam, sekalipun tahu bahwa orang lain telah membuatnya menderita. Di sinilah perbedaan antara bodhisattva dan makhluk biasa: bukan pada teori, melainkan pada praktik nyata. Kisah di atas memberi kita pelajaran tentang kesabaran bhikkhu tersebut ketika diserang dan dipukuli. Bahkan para bhikkhu lain pun sulit percaya ketika mendengar ia berkata bahwa ia tidak marah, sehingga mereka melaporkannya kepada Buddha. Buddha menjelaskan bahwa siapa pun yang telah melenyapkan semua noda batin tidak lagi memiliki kemarahan. Sebaliknya, jika seseorang masih penuh kemarahan, itu menandakan bahwa ia masih dipenuhi kekotoran dan penderitaan batin. Orang yang ingin membebaskan dirinya sendiri dan menolong orang lain perlu terus-menerus meninjau batinnya, menyaring dan membersihkan kekotoran mental. Dengan demikian barulah kedamaian dan pembebasan sejati dapat dicapai.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 405. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?