37. Seseorang yang telah mqmiliki pengetahuan sempurna tentangtimbul dan Ienyapnya makhluk-makhluk, telah bebas dan ikatan, telah pergi dengan baik (Sugata) dan telah mencapai Penerangan Sempurna, maka ia Kusebut . seorang Brahmana.
Orang yang tidak melekat pada kehidupan rumah tangga maupun pada pergaulan para pertapa, yang hidup tanpa tempat tinggal tetap, sedikit keinginan, dan puas dengan apa adanya—dialah yang Kusebut seorang brahmana sejati.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana, berkaitan dengan Thera Tissa Pabbhāravāsī. Menurut kisahnya, setelah menerima objek meditasi dari Buddha, Tissa pergi jauh ke dalam hutan untuk tinggal dan berlatih. Ia menemukan sebuah gua yang tersembunyi dan cocok untuk meditasi. Ia merasa gembira dan bertekad tinggal di sana untuk menyempurnakan tujuan hidup seorang petapa. Ia masuk ke gua itu dan berlatih dalam keheningan. Dewi penjaga gua melihat hal itu, lalu merasa kesal dan berusaha mencelakainya. Namun betapapun ia mencari, ia tidak menemukan kesalahan apa pun pada bhikkhu yang berbudi luhur itu. Keesokan harinya, ketika Tissa pergi berpindapata, seorang umat perempuan mengundangnya ke rumah untuk menerima persembahan makanan. Ia berikrar akan mendukung Tissa selama tiga bulan masa vassa, dan Tissa menerimanya. Sementara itu, dewi penjaga gua mengira Tissa akan meninggalkan gua karena sudah ada orang yang mengundangnya menerima persembahan. Tetapi setelah lama menunggu, Tissa tetap tidak pergi. Dewi itu kecewa dan berpikir, “Sulit sekali hidup bersama seorang petapa yang begitu berbudi. Aku harus mencari cara untuk menuduhnya agar ia meninggalkan tempat ini.” Setelah berpikir demikian, dewi itu pergi ke rumah umat perempuan yang biasa mempersembahkan makanan kepada Tissa, lalu merasuki anak laki-laki perempuan itu. Anak itu tiba-tiba membelalakkan mata dan mulutnya berbusa. Ibunya ketakutan dan berteriak. Dewi itu berkata bahwa ia harus meminta pertolongan bhikkhu Tissa, dengan memberi anak itu obat dari biji mata. Sang ibu menolak dan tidak mau melakukannya. Dewi itu memerintah dua kali, tetapi ia tetap menolak. Pada perintah ketiga, dewi itu berkata bahwa ia harus menggunakan air bekas membasuh kaki Tissa dan memercikkannya ke kepala anak itu. Kali ini sang ibu setuju, dan anak itu sembuh. Setelah menerima makanan, Tissa kembali ke gua. Dewi itu berdiri di depan pintu gua, menyapanya, dan memujinya sebagai tabib yang hebat. Tissa bertanya mengapa ia berkata demikian. Dewi itu menjawab, “Berkat engkau memercikkan air ke kepala anak itu, ia sembuh. Jadi engkau adalah tabib penyembuh.” Mendengar hal itu, Tissa merenung, “Aku telah melakukan perbuatan baik yang besar,” dan ia merasa sangat gembira. Walaupun dewi itu mencela dan mengusirnya dengan kata-kata keras, Tissa sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Karena ia merenungkan dan menguasai gejolak batinnya secara mendalam, saat itu juga ia mencapai tingkat arahat. Setelah tiga bulan vassa, Tissa kembali ke wihara. Setelah mengetahui peristiwa itu, para bhikkhu menghadap Buddha dan mengira bahwa Tissa telah berkata tidak benar. Buddha berkata, “Para bhikkhu, putraku tidak marah. Ia tidak gemar bercakap-cakap dengan umat awam; ia hidup menyendiri, sedikit keinginan, dan merasa cukup.” Kehidupan menyendiri dalam keheningan lebih mudah menumbuhkan batin dan kebajikan daripada hidup di tengah keramaian dan kesibukan. Sejak dahulu, para guru meditasi yang ingin memperkuat daya batin sering mencari tempat sunyi untuk bertapa. Hal ini tampak jelas dalam riwayat para praktisi agung dalam sejarah Buddhis. Namun hal ini juga bergantung pada iklim, keadaan sosial, dan kondisi tiap zaman. Dalam masyarakat yang relatif damai dan lingkungan yang sesuai, mencari tempat sunyi untuk bertapa tidak terlalu sulit. Tetapi pada masa perang, kekacauan, atau cuaca yang keras seperti panas atau dingin ekstrem, bertapa di hutan dan pegunungan tentu lebih sulit. Selain itu, hal ini menuntut tekad yang kuat dan keberanian dari setiap orang. Meski demikian, pertapaan menyendiri dapat membawa kedamaian batin yang besar. Hati terasa lebih lapang, ringan, dan bebas apabila praktisi benar-benar bertekad mencari pembebasan dari lingkaran penderitaan dan keterikatan. Namun bertapa menyendiri bukan berarti melarikan diri dari masyarakat. Selama masih hidup, seseorang masih bernapas, makan, minum, dan membutuhkan hal-hal jasmani tertentu; karena itu ia tetap berhubungan dengan dunia luar. Masa pertapaan adalah waktu bagi praktisi untuk memperdalam kekuatan batin. Setelah itu, sesuai dengan kondisi dan kesempatan, ia dapat keluar untuk membabarkan Dharma dan menolong makhluk. Kisah di atas memperlihatkan dengan jelas tekad dan kesabaran bhikkhu Tissa. Walaupun dewi itu berusaha memfitnah dan mengusirnya, ia tetap sabar bertahan dan terus berlatih di gua sampai mencapai cita-citanya. Kehidupan suci yang menyendiri di gua yang sunyi tidak mudah dijalani, kecuali oleh orang yang memiliki kehendak melampaui dunia dan tekad kuat untuk mencapai jalan. Karena itu, untuk menyempurnakan tugas latihan spiritual dan merealisasi kebenaran, seorang praktisi harus berani dan teguh melewati segala rintangan dan kesulitan. Dengan demikian barulah cita-cita luhur seorang pencari pembebasan dapat tercapai, kesinambungan Dharma terjaga, dan manfaat diberikan kepada semua makhluk.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 404. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?