18. Seseorang yang telah bebas dan kemanahan, taat, bajik, bebas dan nalsu keinginan, terkendali dan yang memiliki tubuh mi sebagai tubuh akhir, maka ia Kusebut Brahmana.
Karena ia telah membuang kejahatan, ia disebut brahmana. Karena ia berperilaku tenang, ia disebut pertapa (samana). Dan karena ia telah melepaskan kekotorannya, ia disebut seorang yang meninggalkan keduniawian (pabbajita).

Catatan Mendalam

Ayat Dhammapada ini diajarkan Buddha di Vihara Jetavana, berkaitan dengan seorang bhikkhu. Menurut kisah: "Seorang Brahmin ditahbiskan di bawah guru lain, bukan Buddha, lalu berpikir: 'Petapa Gotama menyebut murid-muridnya sebagai bhikkhu. Aku pun pantas disebut demikian.' Maka ia mendatangi Buddha dan mengemukakan hal itu. Buddha bersabda: 'Aku tidak menyebut siapa pun bhikkhu karena alasan yang kau berikan. Aku menyebut bhikkhu hanya bagi yang telah meninggalkan kebocoran dan kekotoran—seseorang yang telah 'pergi meninggalkan rumah'.'" (Kutipan dari Kisah Dhammapada Jilid III, hal. 330). Dalam ayat ini, Buddha dengan jelas mengemukakan tiga poin: 1. "Telah meninggalkan semua perbuatan jahat, ia disebut brahmana." Di sini, Buddha mendasarkan pada kualitas praktik spiritual, bukan pada bentuk lahiriah atau gelar. Betapa pun megahnya gelar, jika perilaku moral seseorang kurang, gelar itu hampa, lelucon, hanya kedok untuk menipu orang lain. Seorang praktisi sejati tidak memerlukan bentuk lahiriah; yang penting adalah kualitas isi—kualitas tinggi. Itulah kualitas moralitas, pemberantasan kekotoran batin, dan kehidupan yang damai dan bahagia. 2. "Seseorang yang perilakunya murni disebut pertapa (samana)." Dalam Sutra Empat Puluh Dua Pasal, pasal pertama memuat ajaran Buddha: "Mereka yang meninggalkan rumah dan keluarga, mengenali pikiran mereka sendiri, memahami sifat sejati mereka, dan merealisasikan Dharma tanpa kondisi—disebut pertapa (samana). Mereka senantiasa memegang 250 aturan, hidup murni, melatih Empat Kebenaran Mulia, dan menjadi arahant..." Juga dalam sutra yang sama, pasal tiga: "Mencukur janggut dan rambut untuk menjadi pertapa, seseorang yang menerima Dharma harus melepaskan kekayaan duniawi, mencari hanya secukupnya, makan satu kali sehari pada siang hari, tidur satu malam di bawah pohon, hati-hati untuk tidak kembali—ketahuilah bahwa yang membuat orang bodoh adalah keterikatan dan keinginan." Melalui dua bagian ini, Buddha dengan jelas menjelaskan praktik seorang pertapa. Praktik seorang pertapa harus secara internal menembus sumber pikiran dan secara eksternal menjaga perilaku dan aturan yang bermartabat. Baik dalam maupun luar murni—hanya dengan demikian seseorang layak disebut 'pertapa.' 3. "Telah menghilangkan kekotoran, ia disebut seorang yang meninggalkan keduniawian (pabbajita)." Dalam ajaran ini, kita harus memperhatikan kata 'kekotoran.' Kekotoran berarti najis, cemar, tidak bersih. Seorang yang meninggalkan keduniawian harus menjauhkan diri dari dua jenis kekotoran penting: 'kekotoran kekotoran batin dan kekotoran mata pencaharian.' Dengan menjauhkan diri dari kekotoran batin, pikiran menjadi damai. Melalui kedamaian pikiran, kehidupan menjadi segar dan bahagia. 'Kekotoran mata pencaharian' berarti seorang yang meninggalkan keduniawian tidak boleh menghidupi dirinya melalui mata pencaharian yang salah. Dalam Sutra Wasiat Buddha, Buddha dengan jelas mengajarkan tentang mata pencaharian yang salah seperti itu: berdagang, meramal nasib, meramal, menafsirkan tanda, membuat jimat dan mantra, dll. Buddha mengajarkan bahwa seorang yang meninggalkan keduniawian tidak boleh melakukan hal-hal seperti itu, karena hal itu bertentangan dengan aspirasi mulia dari mereka yang telah pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 388. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?