16. Ia yang telah memotong sabuk kebencian, tali kulit nafsu keinginan dan tali rami pandangan keliru serta semua kekotoran batin laten (anusava); ia yang telah menyingkirkan kayu penghalang (kebodohan) dan menyadani kebenaran, maka ia Kusebut seorang Bnahmana.
Ia yang bermeditasi, tanpa noda dan mantap, yang telah selesai tugasnya dan bebas dari kebocoran, yang telah mencapai tujuan tertinggi – itu Ku sebut seorang brahmana sejati.

Catatan Mendalam

Ayat Dhammapada ini diajarkan Buddha di Vihara Jetavana, berkaitan dengan seorang Brahmin. Menurut kisah: "Suatu hari seorang Brahmin berpikir: 'Buddha sering menyebut murid-muridnya sebagai brahmana, padahal aku juga lahir dalam keluarga Brahmin—aku pun pantas disebut demikian.' Berpikir demikian, ia mendatangi Buddha dan mengemukakan hal itu. Buddha bersabda: 'Aku tidak menyebut siapa pun brahmana hanya karena garis keturunan. Aku menyebut brahmana hanya bagi mereka yang telah mencapai tingkat Arahant.'" (Kutipan dari Kisah Dhammapada Jilid III, hal. 327). Dalam ayat ini, Buddha sekali lagi menekankan praktik konsentrasi meditatif. Karena meditasi adalah gerbang penting menuju rumah pencerahan dan kebebasan. Meskipun ajaran Buddha telah diwujudkan dalam ribuan variasi, dengan pintu Dharma yang tak terbatas dan sarana yang terampil tak terbatas, semuanya pada akhirnya bermuara pada dua kata 'dhyana' (meditasi). Dhyana diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa sebagai 'kontemplasi tenang' atau 'penghentian dan pandangan terang.' Ketenteraman adalah konsentrasi, dan kontemplasi adalah kebijaksanaan; penghentian adalah konsentrasi, dan pandangan terang adalah kebijaksanaan. Konsentrasi dan kebijaksanaan—atau penghentian dan pandangan terang—adalah dua praktik yang sejak zaman kuno, semua praktisi Buddha telah memasuki jalan ini; tidak ada jalan lain. Baik berlatih secara eksoteris maupun esoteris, Tanah Murni atau Chan, studi kitab suci atau aturan, semuanya harus melewati jalan ini. Metode praktik untuk setiap pintu Dharma—kedalaman dan kedangkalan, karakteristik, eksistensi dan non-eksistensi—mungkin berbeda, tetapi pada akhirnya seseorang harus mencapai konsentrasi dan kebijaksanaan. Jika seseorang melangkah keluar dari jalan benar ini, praktisi berlatih secara salah dan pasti akan jatuh ke dalam pandangan salah. Secara tegas, itu bukanlah praktik Buddhis. Melalui konsentrasi dan kebijaksanaan yang mendalam, Buddha menaklukkan pasukan Mara dan mencapai buah. Bagi praktisi yang ingin meninggalkan kekotoran dan kebocoran, satu-satunya jalan adalah berdiam dalam konsentrasi meditatif. Meditasi memiliki kekuatan untuk menghilangkan lima rintangan (nafsu indria, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kekhawatiran, keraguan) dan dengan cepat membawa praktisi menuju keadaan Nibbana. Buddha mengatakan bahwa orang yang melakukan ini benar-benar layak disebut brahmana sejati.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 386. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?