Catatan Mendalam
Dua syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana, berkaitan dengan kisah seorang bhikkhu muda bernama Culla Dhanuggaha Pandita, yang berarti “pemanah yang terampil.” Menurut kisahnya, suatu hari seorang bhikkhu muda pulang dari pindapata dan mendapati tidak ada air minum. Ia pergi ke rumah seorang umat untuk meminta air. Di rumah itu ada seorang gadis muda. Begitu melihat bhikkhu tersebut, ia langsung menaruh rasa suka kepadanya dan berkata, “Bhante, bila memerlukan air minum, silakan datang ke sini; jangan pergi ke tempat lain.” Sejak saat itu, bhikkhu muda itu sering datang ke rumahnya dan menerima berbagai makanan darinya. Hal itu menjadi kesempatan bagi gadis tersebut untuk mendekat dan berbincang-bincang. Setelah beberapa kali percakapan yang akrab, bhikkhu itu mulai berpikir untuk meninggalkan kehidupan suci dan menikahinya. Ia jatuh ke dalam kegelisahan dan kebimbangan: di satu sisi masih ingin terus berlatih, tetapi di sisi lain merasa jenuh dengan disiplin dan kesederhanaan hidup monastik. Pikirannya bertentangan dan tidak mantap. Para bhikkhu lain melihat keadaan itu lalu melaporkannya kepada guru pembimbingnya. Guru itu kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Buddha. Buddha menegur bhikkhu muda itu. Beliau berkata bahwa seseorang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga seharusnya hidup dalam kedamaian dan kebebasan batin. Mengapa ia membiarkan kekotoran batin menguasai dirinya hingga membuatnya tertekan dan menderita? Itu adalah kesalahan besar. Kemudian Buddha menceritakan kisah masa lampau mereka. Dahulu kala, Culla Dhanuggaha adalah seorang pemuda yang dikenal sebagai Pemanah Terampil. Karena kemahirannya memanah, gurunya menikahkan putrinya dengannya. Suatu hari, di dekat Benares, ia membunuh lima puluh perampok dengan lima puluh anak panah. Ketika anak panahnya habis, ia menangkap kepala perampok dan meminta istrinya menyerahkan pedang. Namun ketika istrinya melihat perampok itu, ia terpikat olehnya dan justru menyerahkan pedang kepada sang perampok. Perampok itu membunuh si pemanah lalu membawa perempuan itu pergi. Tidak lama kemudian, ia meninggalkannya karena takut perempuan itu juga akan membunuh dirinya sebagaimana ia telah menyebabkan kematian suaminya sendiri. Melihat perempuan yang berubah hati dan tidak setia itu, yang bukan hanya mengkhianati suami tetapi juga memakai tangan orang lain untuk membunuhnya, Sakka, raja para dewa, turun dalam penyamaran untuk membuatnya malu. Ia datang bersama kusirnya dan seorang pemusik surgawi. Sakka menjelma menjadi serigala, kusirnya menjadi ikan, dan pemusik itu menjadi burung. Mereka bertiga mengejek perempuan itu dengan kata-kata sindiran, hingga ia merasa sangat hina dan malu. Setelah menyelesaikan kisah itu, Buddha menyimpulkan: “Pada kehidupan itu, engkaulah pemanah muda tersebut, dan perempuan itu adalah gadis yang memberimu air minum sekarang. Aku sendiri adalah Sakka. Ia baru melihat perampok itu saja sudah dikuasai nafsu, hingga menyebabkan kematian pemanah paling terampil di India. Bhikkhu, cabutlah sampai ke akar nafsu keinginanmu terhadap perempuan ini.” Setelah menasihatinya, Buddha mengucapkan dua syair ini. Pada syair 349, Buddha mengajarkan bahwa orang yang diganggu oleh pikiran buruk terus mencari kenikmatan indria. Semua keinginan manusia lahir dari pikiran. Dalam batin setiap orang tersimpan benih-benih baik dan buruk. Keduanya dapat mengarahkan kehendak. Bila kehendak baik muncul, ucapan dan tindakan bergerak ke arah yang bermanfaat bagi banyak orang. Sebaliknya, bila kehendak buruk muncul, ucapan dan tindakan menimbulkan banyak penderitaan bagi orang lain. Buddha mengajarkan agar seorang praktisi senantiasa memelihara dan menumbuhkan aspirasi baik, sekaligus terus-menerus merenungkan dan melenyapkan keinginan yang buruk. Pikiran manusia dapat diumpamakan seperti raja. Seorang raja memiliki kuasa besar. Jika ia bijaksana dan berbudi, rakyat hidup tenteram dan negeri menjadi damai. Jika ia bodoh dan kejam, rakyat kacau dan negeri berada dalam bahaya. Demikian pula ladang batin manusia: semuanya diarahkan oleh pikiran. Bila pikiran jernih dan bajik, ia memerintah tubuh dan ucapan untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi makhluk lain. Bila pikiran gelap dan jahat, ia menyebarkan banyak bencana dan penderitaan. Pikiran buruk pada akhirnya menghancurkan orang yang memeliharanya, seperti karat muncul dari besi dan kemudian menggerogoti besi itu sendiri. Demikian pula, pikiran buruk merusak diri kita dan menyeret kita ke dalam kemerosotan, bukan hanya dalam kehidupan ini, tetapi juga dalam banyak kehidupan mendatang. Karena manusia memiliki terlalu banyak ambisi dan mengejar kesenangan indria tanpa henti, ia terikat semakin erat oleh penderitaan. Karena itu Buddha berkata bahwa mendambakan lebih banyak kenikmatan berarti memperkuat belenggu diri sendiri. Pada syair 350, Buddha menasihati kita untuk sering merenungkan ketidakmurnian agar dapat melenyapkan kemelekatan terhadap nafsu indria dan tidak membiarkan Māra mengikat batin. Dengan terus merenungkan tubuh dan batin ini sebagai tidak murni, tidak aman, dan tidak kekal, kemelekatan terhadap rupa indah dan benda-benda materi akan berkurang. Lebih dalam lagi, akar kemelekatan itu dapat dicabut. Hanya dengan demikian pembebasan sejati dapat diharapkan. Buddha mengajarkan perenungan terhadap ketidakmurnian tubuh agar kita melihat dengan jelas hakikatnya: tidak bersih, tidak aman, dan tidak kekal. Kesenangan jasmani hanyalah sensasi yang rapuh. Ia berlalu sebentar saja, lalu menyisakan kelelahan, kejenuhan, kekecewaan, dan penderitaan. Itulah kenyataan yang sulit disangkal. Dalam kebutaan nafsu, orang dapat melupakan segalanya. Namun sifat tubuh yang tidak murni dan tidak kekal tetap nyata di hadapan kita. Orang bijaksana melihat wajah sejatinya, sehingga tidak tenggelam oleh gelombang asmara. Dengan memakai kebijaksanaan dan terus merenungkannya, barulah kita dapat terbebas dari belenggu nafsu keinginan. Kisah di atas menunjukkan bahwa hubungan karma dari kehidupan ke kehidupan sangat dalam dan sulit dipahami. Walaupun seseorang memiliki kondisi baik untuk menjalani hidup suci, kebiasaan lama berupa nafsu dan kekotoran batin dari banyak kehidupan tidak mudah diubah. Jika seorang praktisi tidak membina kekuatan batin dan latihan yang mendalam, sulit baginya untuk lepas dari jaring nafsu. Bhikkhu muda itu adalah contoh jelas dari kerinduan manusia biasa. Ia sedang berada dalam konflik antara jalan kebebasan dan dorongan nafsu yang menenggelamkan. Namun ia masih memiliki keberuntungan besar karena bertemu dengan sahabat spiritual yang luhur, terutama Buddha sendiri. Buddha menyelamatkannya dari bahaya nafsu dalam kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan berikutnya. Pada akhirnya, ia mencapai pembebasan. Itu adalah kisah masa lampau. Pada masa kini pun, banyak praktisi jatuh ke dalam keadaan yang mirip dengan bhikkhu muda itu. Tetapi betapa sulitnya memiliki keberuntungan langka untuk bertemu guru agung seperti Buddha yang dapat menyelamatkan kita secara langsung. Nafsu manusia mungkin sama, tetapi keadaan dan lingkungan sangat berbeda. Pada zaman ini, tidak mudah bertemu sahabat spiritual yang benar-benar luhur. Karena itu, kita hendaknya menjadikan kisah ini sebagai cermin untuk meneliti diri sendiri dan bertekad kuat untuk bangkit menyelamatkan diri. Itulah jalan terbaik dalam semangat kewaspadaan dan pencerahan diri menuju pembebasan.
Asisten Zen AI
Aktif