11. Setelah bebas dan hutan keinginan (kehidupan rumah tangga), ia menemukan hutan kesucian (kehidupan petapa). Tapi, walaupun telah bebas dan keinginan (akan kehidupan rumah tangga) ia kembali ke rumah lagi. Lihatlah orang seperti itu! Setelah bebas, ia kembali pada ikatan itu lagi.
Bila seseorang hidup lengah, nafsu keinginannya terus tumbuh seperti tumbuhan menjalar. Seperti kera yang melompat dari pohon ke pohon mencari buah, ia mengembara dari satu kelahiran ke kelahiran lain mengikuti buah karmanya.

Catatan Mendalam

Empat ayat di atas diajarkan Buddha di vihara Jetavana dan terkait dengan kisah ikan emas Kapilamaccha. Menurut kisah, pada zaman Buddha Kassapa, ada dua bersaudara lahir dalam keluarga bangsawan yang keduanya menjadi biksu. Saudara tertua bernama Sodhana dan adik Kapila. Ibu mereka, Sadhini, dan saudari mereka, Tapana, juga menjadi biksuni. Setelah menjadi biksu, kedua bersaudara menunaikan tugas seorang bhikkhu dengan tekun. Suatu hari, mereka bertanya kepada guru mereka tentang kewajiban utama seorang bhikkhu. Guru menjawab ada dua kewajiban pokok: belajar dan meditasi. Saudara tertua mendedikasikan diri pada meditasi dan mencapai arahant. Adik, Kapila, hanya fokus pada studi, menguasai Tripitaka, tapi mengabaikan meditasi, menjadi sombong dengan ilmunya, meremehkan bhikkhu yang saleh, membentuk faksi, dan mengabaikan nasihat kakaknya, akhirnya jatuh ke neraka Avici.

Pada masa itu, lima ratus perampok dikejar hukum dan lari ke hutan. Mereka bertemu seorang pertapa yang mengajarkan bahwa tempat berlindung terbaik adalah kebajikan dan menanyakan apakah mereka dapat mematuhi lima sila. Mereka setuju dan bersumpah untuk tetap menjaganya, bahkan jika menghadapi bahaya nyawa. Tidak lama kemudian, penduduk menemukan tempat persembunyian mereka dan membunuh mereka, tetapi karena mematuhi sila, mereka lahir kembali di surga. Selama banyak kelahiran, mereka menikmati berkah surgawi. Setelah berkah habis, mereka lahir kembali di dunia manusia pada masa Buddha Shakyamuni. Kapila, setelah menyelesaikan hukuman neraka, terlahir sebagai ikan emas di sungai Aciravati. Tubuhnya emas, tetapi nafasnya sangat bau. Penduduk menangkap ikan dan membawanya kepada raja, yang kemudian menanyakan kepada Buddha. Buddha menceritakan kehidupan sebelumnya Kapila pada zaman Buddha Kassapa. Meskipun Kapila telah mencela bhikkhu yang saleh, melalui membaca sutra, mengajar, dan memuji Buddha, tubuh ikannya menjadi emas. Ibu dan saudari, karena berbuat dosa menjelekkan bhikkhu, jatuh ke neraka, sedangkan kakak Sodhana dibebaskan melalui meditasi. Pendengar sangat terkesan.

Buddha menjelaskan: hidup dalam pandangan benar dan berlatih kesucian adalah seperti permata berharga, lebih mulia dari segala sesuatu. Tanha (nafsu) adalah keterikatan dan keinginan yang menimbulkan penderitaan. Ada tiga jenis: nafsu indria, nafsu eksistensi, dan nafsu kenikmatan abadi. Nafsu adalah akar kelahiran dan kematian. Dalam dua belas sebab bersyarat, nafsu dan keterikatan adalah akar penderitaan. Untuk mengakhiri siklus kelahiran, seseorang harus menyingkirkan nafsu. Praktisi yang ingin mencapai pembebasan harus memutus semua nafsu. Jika diabaikan, nafsu menggelisahkan pikiran terus-menerus, seperti rumput yang tumbuh tanpa kendali atau monyet yang melompat dari pohon ke pohon mencari buah. Ayat 334 mengajarkan bahwa hidup ceroboh meningkatkan nafsu tanpa henti, seperti rumput yang tumbuh dari generasi ke generasi, seperti monyet yang terus mencari buah. Keinginan manusia tidak ada dasarnya, dan jika tidak terkendali hanya menimbulkan penderitaan. Mereka yang tahu cukup dapat miskin namun bahagia, sementara yang paling kaya sering tidak bahagia. Praktisi harus segera mengubah benih nafsu untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan sejati.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 334. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?