12. Orang bijaksana menyatakan, bahwa belenggu yang terbuat dari besi, kayu ataupun rami tidaklah begitu kuat. Tetapi, ikatan terhadap anak-anak, isteri dan harta benda, sesungguhnya menupakan belenggu yang jauh lebih kuat.
Jika di dunia ini seseorang terikat oleh nafsu keinginan, maka kesedihannya akan terus bertambah, seperti rumput birana yang tumbuh subur setelah hujan.

Catatan Mendalam

Empat ayat di atas diajarkan Buddha di Vihara Jetavana dan terkait dengan kisah ikan emas Kapilamaccha. Pada zaman Buddha Kassapa, dua bersaudara dari keluarga bangsawan menjadi biksu. Kakak, Sodhana, mendedikasikan diri pada meditasi dan mencapai arahant, sedangkan adik, Kapila, hanya fokus pada studi Tripitaka. Kapila mengabaikan meditasi, menjadi sombong dengan ilmunya, meremehkan bhikkhu saleh, membentuk faksi, dan mengabaikan nasihat kakaknya, sehingga jatuh ke neraka Avici.

Saat itu, lima ratus perampok melarikan diri ke hutan dan meminta nasihat seorang pertapa. Pertapa itu mengajarkan bahwa tempat berlindung sejati adalah kebajikan dan menanyakan apakah mereka dapat menjaga lima sila. Mereka bersumpah untuk tidak melanggarnya, meski menghadapi ancaman nyawa. Penduduk menemukan mereka dan membunuh mereka, tetapi karena mematuhi sila, mereka lahir kembali di surga dan menikmati berkah surgawi selama banyak kehidupan. Setelah berkah habis, mereka lahir kembali di dunia manusia pada masa Buddha Shakyamuni. Kapila, setelah menanggung karma neraka, terlahir sebagai ikan emas di Sungai Aciravati. Tubuhnya emas, tetapi napasnya busuk. Penduduk menangkap ikan dan membawanya kepada raja, yang kemudian bertanya kepada Buddha. Buddha menceritakan kehidupan sebelumnya Kapila, menjelaskan bahwa meskipun ia menghina bhikkhu saleh, melalui membaca sutra, mengajar, dan memuji Buddha, tubuh ikannya menjadi emas. Ibu dan saudari Kapila jatuh ke neraka karena kejahatan mereka, sedangkan kakak Sodhana dibebaskan melalui meditasi. Para pendengar sangat terkesan.

Buddha menjelaskan bahwa hidup dalam pandangan benar dan menjaga kesucian adalah seperti permata berharga. Tanha (nafsu) adalah keterikatan dan keinginan yang menimbulkan penderitaan. Ada tiga jenis: nafsu indria, nafsu eksistensi, dan nafsu kenikmatan abadi. Nafsu adalah akar kelahiran dan kematian. Untuk menghentikan siklus kelahiran, seseorang harus menyingkirkan nafsu. Praktisi yang mengejar pembebasan harus memutus semua nafsu. Jika dibiarkan, nafsu mengguncang pikiran terus-menerus, seperti rumput yang tumbuh tanpa kendali atau monyet yang melompat dari pohon ke pohon mencari buah. Ayat 335 mengajarkan bahwa jika seseorang terikat oleh nafsu, kesedihan akan terus bertambah seperti rumput setelah hujan. Keinginan muncul dari pikiran; tanpa pikiran, tidak ada nafsu. Keinginan manusia tidak pernah berhenti, dan ketika bertemu objek yang menarik, pikiran menjadi terjerat. Saat keinginan muncul, seseorang sudah terikat padanya, menyebabkan penderitaan. Untuk melepaskan penderitaan itu, benih nafsu harus segera diubah, sehingga perdamaian dan kebahagiaan sejati dapat tercapai.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 335. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?