10. Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan, berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak. Karena itu, seorang bhikkhu yang menginginkan kcbebasan diri, hendaknya ia membuang segala nafsu keinginannya.
Baiklah menjaga sila hingga akhir hidup, baiklah memiliki keyakinan benar yang kokoh, baiklah memperoleh kebijaksanaan, dan baiklah menjauhi perbuatan jahat.

Catatan Mendalam

Tiga bait ini diajarkan Buddha kepada Māra ketika Beliau sedang berdiam menyepi di pegunungan Himalaya. Kisahnya menceritakan bahwa ketika Bodhisatta sedang menjalani pertapaan di Himalaya, pemerintahan para raja pada masa itu keras dan menindas. Melihat rakyat menderita karena hukuman yang kejam, Beliau tergerak oleh belas kasih. Beliau merenung, “Mengapa tidak ada pemerintahan yang adil dan lurus, tanpa pembunuhan, penaklukan, dan penderitaan?”

Māra menangkap pikiran yang muncul dalam batin Buddha itu dan berkata dalam hati, “Petapa Gotama baru saja memikirkan pemerintahan. Mungkin sekarang ia ingin menjadi raja. Ini kesempatan untuk mengalihkan batinnya. Jika ia memegang kekuasaan, aku dapat menggoda dia. Aku akan datang dan membangkitkan nafsunya.” Māra mendekati Buddha dan berkata, “Bhante, biarlah Sang Bhagavā memerintah. Biarlah Yang Tertinggi memimpin. Tidak akan ada pembunuhan, penaklukan, dan penderitaan, melainkan hanya keadilan dan kebenaran.”

Buddha bertanya, “Māra, apa yang engkau lihat pada-Ku sehingga berkata demikian?” Māra menjawab, “Bhante, seorang Buddha mampu menggunakan empat dasar kekuatan batin. Jika Bhante hanya memerintahkan, ‘Biarlah Himalaya menjadi emas,’ maka gunung itu segera menjadi emas. Dengan kekayaan demikian, segala hal yang dapat dilakukan dengan kekayaan akan terlaksana. Dengan begitu Bhante dapat memerintah secara adil dan benar.”

Buddha menjawab, “Keserakahan manusia tidak akan puas walaupun diberi gunung emas. Mengetahui hal itu, orang bijaksana berjalan di jalan yang lurus. Orang yang telah melihat penyebab penderitaan tidak mungkin menyerahkan hidupnya kepada kesenangan. Biarlah orang yang memahami sebab kelahiran dan kematian melatih diri dan menaklukkan jaring nafsu yang telah mengikat makhluk selama banyak kehidupan.” Lalu Buddha memperingatkan Māra, “Māra, Aku menasihatimu sekali lagi: Aku tidak seperti engkau. Itulah yang ingin Kukatakan.”

Dalam tiga bait di atas, pada bait 331 Buddha menyebutkan empat jenis kebahagiaan. Pertama, bahagia bertemu sahabat setelah lama berpisah. Ini adalah perasaan manusia yang wajar. Bila sahabat dekat yang pernah berbagi suka dan duka tiba-tiba bertemu kembali setelah lama berpisah, kegembiraannya sulit dilukiskan. Pada makna yang lebih dalam, “sahabat” juga dapat dipahami sebagai sahabat tanpa nama, yakni batin asal atau sifat sadar yang telah lama tidak kita kenali. Ketika seseorang tiba-tiba mengenali kembali sifat sadar itu, tidak ada kegembiraan duniawi yang dapat menandinginya.

Kedua, bahagia memiliki kecukupan pada saat yang tepat. Kecukupan memiliki makna jasmani dan rohani. Kecukupan materi adalah baik bila diperoleh dengan usaha sendiri, ketekunan, dan penghidupan yang benar. Kekayaan yang dibangun dengan mengeksploitasi orang lain bukanlah kecukupan sejati, melainkan tidak adil dan tidak bajik. Kecukupan rohani jauh lebih berharga. Kekayaan materi bersifat sementara dan tidak pasti, hari ini ada, besok dapat lenyap. Kelimpahan rohani adalah kekayaan sila, kebajikan, dan kebebasan batin. Orang yang membangun hidupnya di atas dasar moral yang luhur memiliki batin yang damai, ringan, dan tidak terikat. Inilah kekayaan sejati yang tidak akan habis.

Ketiga, bahagia memiliki karma baik saat menjelang kematian. Ada dua jenis karma dasar yang perlu diperhatikan: karma baik dan karma buruk. Bila seseorang telah menumbuhkan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari, ia tidak perlu takut pada saat kematian, sebab batin akan mengikuti kebiasaan baik yang telah dibentuk. Jika pada saat terakhir ia didukung oleh kondisi baik dan sahabat spiritual yang mengingatkan pada Dharma, lalu pikiran baik muncul ketika ia meninggal, ia cenderung terlahir di alam yang damai. Inilah kekuatan karma menjelang kematian. Sebaliknya, bila batin berpaling pada keadaan yang tidak baik, hasilnya adalah penderitaan.

Keempat, bahagia terbebas dari semua penderitaan. Kebahagiaan ini sangat langsung dan jelas: berakhirnya penderitaan adalah kebahagiaan. Namun kita harus memahami sumber penderitaan. Walaupun penderitaan memiliki banyak bentuk, Buddha merangkumnya sebagai tiga penderitaan dan delapan penderitaan besar. Tiga penderitaan adalah penderitaan karena rasa sakit, penderitaan karena perubahan, dan penderitaan yang melekat pada segala sesuatu yang berkondisi. Delapan penderitaan adalah kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, berpisah dari yang dicintai, tidak memperoleh yang diinginkan, bertemu dengan yang tidak disukai, dan beban lima kelompok kehidupan. Semua penderitaan ini muncul dari ketidaktahuan dan kekotoran batin. Ketika sebab berupa ketidaktahuan dan kekotoran batin berakhir, buah penderitaan juga berhenti. Itulah kedamaian Nirvāṇa, kebahagiaan tertinggi. Pertanyaan penting bagi setiap praktisi adalah bagaimana mengakhiri ketidaktahuan dan kekotoran batin.

Pada bait 332, Buddha juga menyebutkan empat jenis kebahagiaan. Pertama, bahagia menghormati dan merawat ibu. Bagi siapa pun yang masih memiliki ibu, ini adalah salah satu berkah terbesar dalam hidup. Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu tidak terukur. Namun ada anak yang memperlakukan ibunya dengan keras ketika ia masih hidup, lalu menyesal setelah ibunya tiada. Lebih baik merawat ibu dengan sepenuh hati ketika masih ada kesempatan, sehingga kelak tidak ada penyesalan.

Kedua, bahagia menghormati dan merawat ayah. Ayah dan ibu sama-sama memiliki jasa besar dalam membesarkan dan mendidik anak. Karena itu, sebagai anak, kita harus mengingat budi dan membalas kebaikan mereka. Rasa syukur adalah kualitas luhur dan sangat penting dalam kehidupan manusia. Ketika merawat orang tua, kita harus melakukannya dengan hormat. Dukungan materi saja tidak cukup; harus disertai penghormatan dan cinta yang tulus. Ketika orang tua bahagia, anak pun merasakan kegembiraan besar.

Ketiga, bahagia menghormati dan mendukung para renunsian sejati. Seorang renunsian adalah orang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan hidup menurut disiplin jalan spiritual. Mereka yang berlatih dengan tulus dan memiliki kebajikan moral layak dihormati. Memberi dukungan kepada mereka adalah berkah besar bila dilakukan dengan hati yang murni dan penuh hormat. Persembahan harus mencakup dukungan materi sesuai kemampuan dan sikap hormat. Rasa hormat adalah dasar dari persembahan. Tanpa rasa hormat, pemberian dapat berubah menjadi ungkapan kesombongan, bukan kebajikan.

Keempat, bahagia menghormati dan mendukung para muliawan. Para muliawan adalah mereka yang telah memotong akar kekotoran batin. Ada berbagai tingkat kemuliaan: Buddha adalah yang tertinggi di antara para muliawan; para bodhisattva, Arahat, dan siswa yang tercerahkan juga termasuk dalam garis para mulia. Memberi persembahan kepada mereka dengan ketulusan mendatangkan jasa besar. Karena itu, Buddha mengatakan bahwa menghormati para muliawan adalah sumber kebahagiaan.

Pada bait 333, Buddha menyebutkan empat jenis kebahagiaan lagi. Pertama, bahagia tetap menjaga sila pada usia tua. Pada usia tua, ingatan dan kejernihan dapat melemah, tetapi bila seseorang masih ingat dan setia menjaga sila yang telah diterimanya, itu adalah kebahagiaan sejati. Ada orang yang sangat menjaga disiplin moral ketika muda, tetapi ketika tua mulai melonggarkan komitmennya dan membenarkan pelanggaran sila dengan alasan kelemahan atau kebutuhan tubuh. Alasan seperti itu muncul dari keterikatan pada tubuh. Kebahagiaan sejati bagi praktisi bukanlah kesenangan sementara, melainkan sukacita Dharma yang mendalam karena kebajikan dan kejernihan batin.

Kedua, bahagia menegakkan keyakinan benar. Keyakinan benar adalah kebalikan dari kepercayaan buta atau sesat. Orang yang tidak memiliki keyakinan pada Tiga Permata, karma, dan hukum sebab-akibat moral mudah jatuh ke jalan yang buruk. Sebaliknya, orang yang memiliki keyakinan benar kepada Buddha, Dharma, Saṅgha, dan hukum sebab-akibat akan menghindari kejahatan dan mengembangkan kebaikan. Dengan menciptakan karma baik melalui tubuh, ucapan, dan pikiran, ia terhindar dari penderitaan pada masa kini dan menerima hasil baik di masa depan. Kebahagiaan ini lahir dari keyakinan yang kokoh.

Ketiga, bahagia memiliki kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, praktik Buddhis sulit berhasil. Kebijaksanaan adalah harta agung seorang praktisi. Melalui kebijaksanaan seseorang dapat membedakan benar dan salah, sejati dan palsu, bajik dan tidak bajik. Tanpa kebijaksanaan, praktik seperti berjalan buta di malam gelap dan mudah jatuh ke dalam bahaya. Dengan kebijaksanaan, seseorang melihat dengan jelas, menghindari kesalahan, dan berjalan mantap menuju pembebasan dan kedamaian. Karena itu, Buddha mengatakan bahwa memiliki kebijaksanaan adalah kebahagiaan.

Keempat, bahagia tidak melakukan kejahatan. Orang yang telah melakukan perbuatan jahat sulit memperoleh ketenangan batin. Setelah menyakiti orang lain, ia mungkin merasakan kepuasan sesaat, tetapi kemudian harus menanggung akibat yang menyakitkan. Ketakutan, penyesalan, hukuman sosial, dan beban ingatan menyiksa batinnya. Karena itu, siapa pun yang menginginkan kedamaian dalam kehidupan ini dan kehidupan mendatang hendaknya tidak melakukan kejahatan.

Dari kisah di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, ketika Buddha memunculkan suatu pikiran, Māra dapat mengetahuinya. Dalam ajaran Buddhis, makhluk dari alam halus dapat melihat gerak pikiran. Baik atau buruk, pikiran meninggalkan jejak dalam batin. Ketika batin tidak lagi memunculkan pikiran yang melekat, tidak ada jejak yang dapat dimanfaatkan oleh Māra. Praktisi yang batinnya stabil seperti ini berada di jalan menuju pembebasan.

Kedua, Māra menggoda kita ketika pikiran tidak bajik muncul. Saat seperti itu membuka celah bagi Māra untuk menuntun kita pada tindakan salah. Karena itu, kita tidak boleh memelihara pikiran jahat. Jika pikiran itu muncul, kita harus segera memutuskannya dan tidak memberinya ruang untuk tumbuh. Begitu kita mengikuti dorongannya, kesalahan muncul melalui tubuh, ucapan, dan pikiran, membawa bahaya besar. Maka kita harus berhati-hati dan waspada.

Ketiga, kita harus terus-menerus mengembangkan pandangan benar dan perhatian benar. Dengan perhatian benar, kita dapat mengenali pikiran yang keliru dan berbahaya, terutama pikiran yang berakar pada keserakahan terhadap kedudukan, keuntungan, dan kesenangan. Akarnya adalah ketidaktahuan. Kita tidak boleh menjadi budak ketidaktahuan. Untuk itu, kita membutuhkan kebijaksanaan. Hanya kebijaksanaan yang dapat menerangi dan menembus ketidaktahuan. Ketika ketidaktahuan dan kekotoran batin tidak lagi muncul, penderitaan dan belenggu pun berhenti. Inilah makna pembebasan. Bab XXIV: Nafsu Keinginan.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 333. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?