2. Dalam dunia ini, siapa pun yang dikuasai oleh nafsu kenginan rendah dan beracun, penderitaannya akan bertambah seperti rumput Birana yang tuinbuh dengan cepat karena disirami dengan baik.
Orang yang lamban, rakus, suka tidur, dan bermalas-malasan seperti babi yang diberi makan terus, akan terus berputar dalam kelahiran berulang karena kebodohan dan kemelekatannya.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana sehubungan dengan Raja Pasenadi. Dikisahkan bahwa Raja Pasenadi pernah memiliki kebiasaan makan sangat banyak makanan yang kaya bumbu dan kuah. Suatu hari, setelah makan berlebihan, tubuh dan pikirannya menjadi berat, lesu, dan mengantuk. Ia pergi menemui Buddha, berjalan mondar-mandir di hadapan Beliau dengan sangat letih. Ia sebenarnya hanya ingin berbaring dan tidur, tetapi akhirnya duduk di samping Buddha. Melihat keadaannya, Buddha bertanya, “Raja Agung, apakah engkau belum sempat tidur sebelum datang ke sini?” Raja menjawab, “Bukan begitu, Bhante. Aku selalu merasa tidak nyaman setelah makan terlalu kenyang.” Buddha berkata, “Raja Agung, makan berlebihan sering membawa kelelahan.” Lalu Buddha mengucapkan syair ini. Untuk membantu sang raja, Buddha juga mengajarkan bahwa orang bijaksana makan secukupnya; tubuh dan batin menjadi ringan, penuaan melambat, dan hidup terasa lebih nyaman. Buddha meminta Pangeran Uttara menghafal syair itu dan membacakannya setiap kali raja makan, agar raja ingat untuk berhenti. Pangeran mengikuti petunjuk Buddha. Setelah beberapa waktu, raja mulai makan lebih sederhana dan secukupnya, berat badannya berkurang, dan ia merasa lebih sehat. Ia pun sering mengunjungi Buddha dan mempersembahkan dana dengan penuh keyakinan. Makanan dan minuman memang menopang kehidupan serta memberi tubuh tenaga untuk bekerja dan beraktivitas. Namun bila seseorang tidak tahu mengatur makan dan minum, hal itu dapat berubah menjadi sumber bahaya. Banyak orang menderita karena apa yang masuk melalui mulut. Manusia secara alami senang makan, dan makan mudah menjadi bentuk kenikmatan. Ia berkaitan erat dengan nafsu dan keterikatan. Di dunia modern, makanan sering berlimpah, banyak diproses, dan terkena pengaruh zat kimia serta pencemaran lingkungan yang diciptakan oleh manusia sendiri. Bahkan makanan alami tidak selalu semurni dahulu. Racun dan pencemaran menyebar di tanah, sungai, laut, dan udara. Semua itu sebagian besar lahir dari keserakahan dan kelalaian manusia. Manusia menciptakan senjata berbahaya, mencemari atmosfer, merusak lingkungan, lalu menanggung akibatnya dalam bentuk penyakit dan ketakutan. Para ilmuwan bekerja keras mencari cara menyembuhkan berbagai penyakit dan mempertahankan kehidupan, karena hidup manusia sangat berharga. Namun di sisi lain, karena keserakahan yang tak terbatas, manusia terus menciptakan sebab-sebab baru dari penyakit dan penderitaan, tanpa memedulikan akibatnya bagi diri sendiri, keluarga, maupun sesama. Inilah akibat besar dari nafsu dan keserakahan yang tidak terkendali. Pada masa lalu, orang lebih sedikit menderita penyakit karena hidup lebih sederhana, makan secukupnya, mengonsumsi makanan alami, lebih banyak berjalan, dan memiliki lebih sedikit kecemasan serta kebiasaan buatan. Kehidupan batin mereka pun lebih ringan. Kini, banyak penyakit muncul karena pola makan yang berlebihan, makanan yang berat dan berlemak, kurang bergerak, serta hidup yang penuh tekanan. Para dokter sering menganjurkan agar orang lebih banyak makan sayur dan buah, mengurangi daging serta lemak hewani, dan berolahraga secara teratur. Berjalan kaki adalah salah satu bentuk gerak paling sederhana, murah, dan bermanfaat, terutama bagi orang yang lebih tua. Namun banyak orang telah terbiasa dengan kenyamanan dan enggan berjalan meskipun jaraknya dekat. Hal yang sama terjadi dalam soal makan. Banyak orang lebih suka makanan restoran atau makanan yang kaya rasa tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya. Saat menikmati hidangan yang lezat, jarang orang merenungkan dampaknya. Ada yang berpikir bahwa hidup akan sia-sia bila tidak menikmati semua rasa dan kesenangan. Karena pikiran demikian, mereka memanjakan diri tanpa batas. Ada pula yang gemar makan kecil sepanjang hari, menyimpan camilan di dekatnya, dan makan setiap kali mulut terasa kosong. Kebiasaan seperti itu mudah menimbulkan kegemukan dan berbagai penyakit, terutama penyakit jantung serta gangguan lainnya. Orang ingin hidup panjang, tetapi tidak mau berpantang. Inilah salah satu pertentangan dalam kehidupan manusia. Kini banyak orang makan banyak tetapi bergerak sedikit. Karena kurang berjalan, kurang olahraga, dan kurang aktivitas fisik, tubuh menjadi lemah dan mudah sakit. Kisah Raja Pasenadi adalah contoh yang jelas. Ia terbiasa makan terlalu banyak dan kurang bergerak, sehingga tubuhnya semakin gemuk dan berat. Sebagai raja, ia menikmati makanan mewah dan bergizi tinggi, maka wajar bila tubuhnya bertambah berat. Setelah makan, ia mengantuk di mana pun ia duduk. Melihat hal itu, Buddha menasihatinya agar makan lebih sedikit dan memilih makanan yang sesuai. Berkat nasihat itu, raja menurunkan berat badan dan menjadi lebih sehat. Orang yang terlalu gemuk sering sulit hidup panjang, dan semua itu banyak berasal dari makan yang tidak terkendali. Kita sebaiknya menjadikan hal ini sebagai pelajaran dan mengikuti nasihat Buddha untuk mengatur makan agar sehat dan panjang umur. Dalam syair ini, Buddha memperingatkan kita agar tidak rakus makan dan suka tidur seperti babi yang makan lalu berbaring. Hidup yang hanya mengenal makan dan tidur adalah hidup yang hambar dan sia-sia. Jika manusia hidup hanya untuk itu, sungguh besar kesempatan kelahiran sebagai manusia yang terbuang percuma.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 325. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?