1. Bila seseorang hidup lengah, maka nafsu keinginannya tumbuh, seperti tanaman Maluwa yang menjalar. Ia melompat dari satu kehidupan ke kehidupan lain, bagaikan kera yang senang mencari buah-buahan di dalam hutan.
Gajah bernama Dhanapālaka, penjaga harta, menjadi liar dan sukar dikendalikan ketika masa berahi. Walau terikat, ia tidak mau makan, karena batinnya terus merindukan hutan tempat asalnya.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan oleh Buddha ketika Beliau berada di Sāvatthī, sehubungan dengan seorang brahmana tua yang ditelantarkan oleh anak-anaknya sendiri. Menurut kisahnya, brahmana tua itu memiliki empat orang putra. Ketika mereka dewasa, ia menikahkan mereka dan membagi hartanya secara merata. Ia memiliki delapan ratus ribu keping emas dan memberikan masing-masing putra seratus ribu. Setelah istrinya meninggal, anak-anaknya takut ayah mereka menikah lagi sehingga mereka tidak memperoleh sisa harta itu. Maka mereka bersepakat untuk merawat ayah mereka dengan baik agar kelak dapat mengambil seluruh warisannya. Keempat putra itu pun melayaninya dengan teliti, menyediakan makanan, pakaian, dan segala kebutuhannya. Akhirnya mereka meminta agar ayah mereka menyerahkan juga sisa hartanya. Karena kasih sayang, ia menuruti permintaan itu dan memberikan kepada masing-masing putra seratus ribu lagi. Sejak saat itu, ia tidak memiliki apa-apa. Setelah hartanya habis, para menantu perempuannya memperlakukan dia dengan sangat buruk. Ke rumah anak mana pun ia pergi, ia ditolak dan diusir. Dalam kesedihan, ia mengembara dari tempat ke tempat untuk meminta makan. Suatu hari ia teringat kepada Buddha dan pergi menemui Beliau. Setelah ia menceritakan penderitaannya karena ditelantarkan oleh anak-anak dan menantunya, Buddha menghiburnya dan mengajarkan beberapa syair untuk dihafalnya. Dalam syair itu, sang ayah tua meratap bahwa anak-anak yang kelahirannya dahulu ia sambut dengan penuh sukacita kini mendengarkan hasutan istri mereka dan mengusirnya seperti mengusir anjing. Mereka memanggilnya “ayah tercinta,” tetapi kata-kata itu kosong dan kejam. Mereka seperti makhluk jahat yang menyamar sebagai anak, meninggalkannya pada usia tua seperti kuda tua yang tak berguna. Ia berkata bahwa tongkat berjalan masih lebih baik daripada anak-anak yang tidak tahu berterima kasih, sebab tongkat dapat menghalau hewan liar, menuntun dalam gelap, dan menopang kaki saat melewati lumpur serta air. Buddha menyuruhnya menghafal syair itu. Kemudian, dalam suatu pertemuan besar kaum brahmana yang juga dihadiri anak-anaknya, ia membacakan syair itu di hadapan semua orang. Anak-anaknya menjadi sangat takut, sebab menurut hukum pada masa itu, orang yang menerima harta orang tua tetapi tidak merawat mereka dapat dijatuhi hukuman berat. Mereka memohon agar ayah mereka mengampuni mereka. Dengan hati seorang ayah yang lapang, ia memaafkan mereka. Sejak saat itu, mereka kembali merawat dan melayaninya dengan hormat, tidak berani lagi memperlakukannya dengan buruk. Mereka juga sering mempersembahkan makanan kepada Buddha. Di hadapan Buddha, mereka bersujud dan berjanji akan merawat ayah mereka dengan sungguh-sungguh. Buddha memuji mereka dan mengajarkan agar mereka meneladani gajah Dhanapālaka, yang tetap mengingat asal-usulnya. Setelah mendengar ajaran Buddha, sang brahmana tua dan para menantunya mencapai tingkat pertama pencerahan. Dalam kehidupan duniawi, segala sesuatu memiliki dua sisi: manfaat dan bahaya. Demikian pula dengan harta. Dari sisi manfaat, hampir semua orang membutuhkan uang untuk hidup. Uang menjadi sarana pertukaran dan menopang kehidupan material. Banyak orang berkata bahwa dengan uang, hampir semua urusan dapat diselesaikan. Walau hanya berupa kertas atau logam, uang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam masyarakat. Orang kaya sering didengar, dihormati, dan lebih mudah menyelesaikan banyak masalah duniawi. Sebaliknya, orang miskin sering diremehkan meskipun ia berkata benar dan berbuat baik. Namun dari sisi bahaya, uang juga dapat menimbulkan kecemasan, perebutan, kehilangan tidur, dan kemerosotan moral. Karena uang memiliki daya yang besar, orang saling berebut untuk memilikinya. Keserakahan yang berlebihan membuat manusia menggunakan berbagai cara buruk untuk merebut kekayaan. Bahkan dalam keluarga sendiri, saudara sedarah dapat saling menyakiti karena warisan dan harta. Ketika nafsu menjadi terlalu kuat, hati nurani dan kebijaksanaan menjadi tertutup. Namun uang itu sendiri sebenarnya tidak baik dan tidak jahat. Manfaat atau bahayanya bergantung pada cara manusia menggunakannya. Uang seharusnya dipandang sebagai sarana sementara dalam kehidupan, bukan sebagai tuan. Kita tidak boleh menjadi budaknya atau membiarkannya mendorong kita melakukan kejahatan. Ada banyak orang yang pandai menggunakan uang untuk kebajikan: membantu orang miskin, orang sakit, penyandang disabilitas, dan mereka yang tertimpa kemalangan. Mereka lebih menghargai moralitas dan kasih sayang daripada uang. Orang seperti itu patut dihormati dan diteladani. Kisah di atas membuktikan hal sebaliknya. Karena serakah ingin mengambil seluruh harta ayah mereka, anak-anak itu memakai tipu daya yang buruk. Dari luar tampak seolah-olah mereka berbakti, tetapi di dalam hati mereka hanya menginginkan harta. Para menantu pun turut bersekongkol. Setelah harta ayah mereka habis, mereka berubah sikap, menelantarkannya, dan memperlakukannya lebih buruk daripada orang asing. Sang ayah tua akhirnya hanya dapat pergi dengan hati hancur, mengembara sebagai pengemis, tidur di mana saja ia bisa. Sungguh menyedihkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan jerih payah dapat memperlakukan orang tua seperti itu. Namun kita juga tidak boleh menyamaratakan semua orang. Di dunia ini, watak manusia berbeda-beda menurut kebiasaan, karma, dan kedalaman batinnya. Ada menantu yang sangat hormat dan tahu berterima kasih, bahkan kadang merawat orang tua pasangan lebih baik daripada anak kandung sendiri. Mereka memahami tata susila dan menghormati orang-orang yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik. Meski demikian, orang seperti ini memang langka, dan karena itulah mereka sangat berharga. Walaupun sang brahmana tua ditolak oleh keluarganya, ia masih memiliki keberuntungan untuk bertemu Buddha. Buddha menunjukkan cara untuk membangunkan hati nurani anak-anaknya agar mereka menyadari kesalahan dan kembali pada kebaikan. Akhirnya, mereka membawanya pulang dan merawatnya dengan layak. Yang lebih penting lagi, seluruh keluarga menumbuhkan keyakinan, mempersembahkan dana kepada Buddha dan Sangha, mendengarkan ajaran, dan mencapai tingkat pertama pencerahan. Dalam syair ini, Buddha menyebut gajah Dhanapālaka, yang berarti “penjaga harta.” Walaupun gajah itu menjadi ganas dan sulit dikendalikan ketika masa berahi, bahkan menolak makan ketika ditawan, batinnya tetap merindukan hutan yang dalam. Hutan melambangkan tempat asal dan perlindungan sejatinya. Meski liar dan sukar dijinakkan, gajah itu tetap mengingat sumber asalnya. Melalui gambaran ini, Buddha mengingatkan manusia bahwa betapapun keras atau tersesatnya seseorang, ia harus tetap mengingat akar kehidupannya. Akar itu adalah orang tua, leluhur, guru, para dermawan, dan tanah tempat seseorang lahir serta dibesarkan. Sebagai manusia, kita harus memiliki rasa terima kasih dan membalas budi, terutama kepada mereka yang melahirkan, membesarkan, mendidik, menolong, dan menjaga kondisi hidup kita. Jika seseorang melupakan akar ini, Buddha mengatakan bahwa ia bahkan lebih rendah daripada seekor gajah.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 324. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?