Catatan Mendalam
Syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana, berkaitan dengan seorang bhikkhu yang dahulu pernah menjadi pelatih gajah. Suatu hari, ketika berdiri di tepi Sungai Aciravati, bhikkhu itu melihat seorang pelatih gajah sedang berusaha menjinakkan seekor gajah tetapi belum berhasil. Karena mengetahui cara melatih gajah, ia berkata kepada para bhikkhu di dekatnya, “Jika gajah itu dipukul di bagian ini dan itu, ia akan segera menurut.” Pelatih gajah mendengarnya, mengikuti nasihat itu, dan tidak lama kemudian gajah tersebut menjadi patuh. Para bhikkhu melaporkan kejadian itu kepada Buddha. Buddha memanggil bhikkhu tersebut dan bertanya, “Benarkah engkau berkata demikian?” Ia menjawab, “Benar, Bhante.” Buddha menegurnya: “Orang bodoh, untuk apa engkau memamerkan keahlian melatih gajah dan binatang? Dengan menunggang binatang seperti itu, seseorang tidak akan mencapai tempat yang belum dicapainya. Hanya melalui latihan diri sendiri seseorang dapat mencapai tujuan yang sulit dicapai. Mulai sekarang, latihlah dirimu sendiri; jangan sibuk melatih binatang.” Melalui kisah ini, Buddha mengajarkan bahwa yang utama dalam praktik adalah menaklukkan dan mendisiplinkan diri sendiri, bukan menguasai keadaan luar. Seorang praktisi sejati harus terus-menerus menengok ke dalam batinnya. Dengan melihat diri sendiri secara jernih, barulah kita dapat mengenali kesalahan dan kelemahan kita. Dalam berbagai ajaran Buddhis, baik dalam tradisi awal maupun Mahayana, Buddha mengajarkan bahwa orang yang ingin terbebas harus menjaga enam indra: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Enam indra inilah yang sering menjadi pintu masuk bagi banyak kekeliruan. Jika seorang praktisi membiarkan enam indra berkeliaran tanpa kendali, ia seperti membuka pintu rumah bagi para pencuri. Karena itu, kitab-kitab suci sering menyebutnya sebagai “enam pencuri.” Buddha mengajarkan bahwa samsara maupun pembebasan sama-sama berhubungan dengan enam indra ini. Jika seseorang mampu menghimpun dan menjaga enam indra, enam objek indra tidak akan mampu mengguncang batinnya. Sebuah ajaran kuno menyatakan bahwa untuk memasuki Kendaraan Tunggal, seseorang tidak perlu membenci enam objek indra. Bila enam objek indra tidak dibenci dan tidak dilekati, semuanya tidak berbeda dari pencerahan. Orang yang ingin mencapai Jalan Buddha tidak perlu membenci bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan objek pikiran. Objek-objek itu sendiri tidak bersalah. Jika batin tidak melekat dan tidak tercemar olehnya, objek-objek itu hanyalah medan pengalaman. Pada saat itu, enam indra tidak lagi menjadi penghalang, melainkan bekerja dengan jernih dan bebas. Ibarat membawa kamera: jika kita tidak mengambil gambar, tidak ada bayangan yang tersimpan, dan tidak ada yang perlu dicetak. Para Buddha dan para guru agung juga memiliki enam indra seperti kita, tetapi mereka tidak menggenggam apa yang muncul melalui indra-indra itu. Karena itu mereka hidup dalam kedamaian dan pembebasan. Sebaliknya, ketika indra kita bertemu kondisi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, kita menangkap, menyimpan, dan melekatinya; lalu kita bertanya mengapa kita menderita. Sesungguhnya, kitalah yang mengikat diri sendiri. Dahulu, Bhikkhu Punna ingin berlatih dengan cepat untuk mencapai buah kesucian. Ia memohon kepada Buddha agar diajarkan satu metode yang singkat, penting, mudah diingat, dan mudah dipraktikkan. Buddha berkata, “Jagalah enam indra. Jangan biarkan mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran melekat pada enam objek indra. Di situlah pembebasan ditemukan.” Punna mengikuti ajaran itu, pergi ke hutan untuk bermeditasi, dan tidak lama kemudian mencapai cita-citanya sebagai seorang arahat. Dalam ajaran Surangama, ketika para bijaksana diminta menjelaskan cara latihan dan pencapaian mereka, Bodhisattva Mahasthamaprapta menyampaikan bahwa metodenya hanyalah terus-menerus mengingat Buddha untuk menghimpun enam indra. Karena ia mampu menjaga enam indra dengan baik, perhatian murninya berlanjut tanpa putus dan samadhi pun hadir. Banyak praktisi masa kini memiliki kebiasaan menyalahkan keadaan luar, bukan memeriksa diri sendiri. Ketika latihan tidak berhasil, mereka menyalahkan keinginan, objek indra, keluarga, kesibukan, atau keadaan yang sulit. Kebiasaan menyalahkan ini adalah penyakit batin yang berat. Jika kita berlatih dengan cara seperti itu, berarti kita belum memahami arti latihan. Berlatih berarti memperbaiki dan mengubah: yang keliru menjadi benar, yang lemah menjadi kuat, yang sesat menjadi lurus, dan yang buruk menjadi baik. Jika dipahami demikian, keadaan apa pun dapat menjadi tempat berlatih. Yang diperlukan hanyalah kesediaan untuk melihat diri sendiri dengan jujur. Dengan mengamati batin, kita dapat mengubah kekotoran, kesalahan, dan kebiasaan tidak terampil. Bersihkan rumah sendiri terlebih dahulu; jangan sibuk menyapu rumah orang lain. Namun banyak orang lebih suka melihat kesalahan orang lain daripada membersihkan kekotoran dalam dirinya sendiri. Sedikit sekali orang yang melihat kesalahan diri sendiri lebih jelas daripada kesalahan orang lain. Jika kita terus-menerus memeriksa diri dan memperbaikinya, jalan latihan kita akan maju jauh menuju pencerahan dan pembebasan. Pada tingkat yang lebih dalam, para guru mengajarkan bahwa ketika menghadapi keadaan, batin hendaknya tidak melekat. Ketika batin tidak mengejar objek luar dan tidak membelahnya menjadi baik atau buruk, suka atau benci tidak muncul. Di situlah pembebasan, kedamaian, dan Nibbana. Maka, tidak perlu lagi bertanya jauh-jauh tentang meditasi, sebab meditasi adalah kewaspadaan, kedamaian, dan kebebasan. Dengan demikian, bahkan di dunia yang penuh penderitaan ini, kedamaian murni dapat hadir. Di tengah keterikatan, pembebasan mungkin dicapai; di tengah kelahiran dan kematian, Nibbana dapat direalisasi. Seorang praktisi tidak harus melarikan diri dari enam objek indra, karena tidak ada tempat untuk benar-benar melarikan diri darinya. Yang perlu dilakukan adalah menghadapinya tanpa melekat. Jika batin melekat pada objek indra, objek itu menjadi noda. Jika tidak ada kemelekatan, objek itu hanyalah kondisi. Hal yang sama dapat menjadi sumber penderitaan bagi orang yang tersesat, tetapi menjadi obat bagi orang yang sadar. Karena itu, Nibbana tidak ditemukan di luar diri, melainkan direalisasi dalam batin sendiri. Itulah sebabnya Buddha menegaskan dalam syair ini: bukan kendaraan atau tunggangan yang membawa seseorang mencapai Nibbana; hanya orang yang pandai melatih dirinya sendiri yang dapat mencapai Nibbana.
Asisten Zen AI
Aktif