Catatan Mendalam
Bab ini disebut Bab tentang Neraka. Dalam bahasa Sanskerta, neraka disebut Naraka atau Niraya. Dalam tradisi Buddhis Tionghoa, istilah ini juga diterangkan sebagai tempat tanpa kegembiraan, tempat yang menakutkan, tempat penuh alat penyiksa, wadah penderitaan, dan tempat tanpa kebebasan. Secara umum, neraka adalah tempat makhluk-makhluk yang telah menciptakan karma jahat—seperti lima perbuatan durhaka berat, sepuluh perbuatan tidak bajik, dan sebagainya—harus menerima penderitaan. Sesuai dengan berat atau ringannya karma buruk yang dibuat oleh makhluk-makhluk itu, neraka memiliki banyak nama yang berbeda. Namun, ada satu hal yang perlu kita ingat: neraka ada bagi mereka yang telah berbuat salah, dan seolah-olah tidak ada bagi mereka yang tidak berbuat salah. Seperti yang kita lihat di dunia sekarang, setiap negara memiliki penjara. Penjara ada untuk menahan, menghukum, dan mendisiplinkan orang-orang yang melanggar hukum. Sebaliknya, bila kita tidak melakukan kejahatan seperti merampok, membunuh, atau melakukan perbuatan melawan hukum, maka meskipun penjara itu ada, bagi kita ia ada seakan-akan tidak ada. Karena itu, bila kita sepenuhnya menolak adanya neraka, atau sebaliknya bersikeras bahwa neraka pasti ada secara mutlak, pernyataan seperti itu belum tentu sepenuhnya tepat. Ada orang yang hidup sejak lahir sampai menutup mata pada akhir hayatnya tanpa pernah mengetahui apa itu penjara. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa neraka ada bagi mereka? Meskipun tempat-tempat seperti neraka tampak jelas di dunia ini, bagi orang yang melakukan kejahatan dan dipenjarakan oleh hukum, dapatkah kita mengatakan bahwa neraka tidak ada bagi mereka? Dengan demikian, jelaslah bahwa neraka diciptakan oleh batin kita sendiri. Itu adalah pembicaraan tentang alam neraka di luar diri. Bila kita meninjau lebih dalam ke batin kita sendiri, maka kapan pun batin kita gelisah, sedih, cemas, takut, dan sebagainya, pada saat itu juga kita sudah jatuh ke dalam neraka. Sebab neraka adalah tempat yang gelap dan penuh penderitaan. Karena itu, bila kita tidak ingin jatuh ke neraka dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang, maka selagi masih hidup kita hendaknya mengikuti nasihat para Buddha dan para guru luhur: berusaha melakukan kebajikan, menumbuhkan budi luhur, menghimpun jasa, menjaga sila yang telah diterima, mengembangkan welas asih dan pengendalian diri, serta mengingat Buddha setiap hari. Jika kita mampu demikian, maka hidup kita bukan hanya akan bahagia dan damai pada saat ini, tetapi kelak kita juga pasti menikmati buah kebahagiaan dan kedamaian. Syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana, berkaitan dengan seorang petapa perempuan dari aliran lain bernama Sundarī. Menurut kisahnya, pada masa Buddha dan Sangha tinggal di Jetavana, semakin lama semakin banyak orang datang mempersembahkan berbagai kebutuhan. Karena itu, para guru dari aliran-aliran lain menjadi semakin iri. Mereka merasa bahwa sejak Buddha muncul, seluruh kehormatan, nama baik, dan keuntungan mereka menurun, dan masyarakat tidak lagi mendukung serta memberi persembahan kepada mereka seperti dahulu. Pada waktu itu, mereka mulai mencari cara untuk mencelakakan Buddha. Di antara para pengikut mereka ada seorang gadis yang sangat cantik bernama Sundarī. Setelah mendengar para guru aliran lain berbicara tentang cara mencelakakan Buddha, ia mendapatkan gagasan dan menyampaikan siasatnya. Setiap hari ia akan berdandan sangat indah, lalu berpura-pura pergi ke Wihara Jetavana untuk mendengarkan Buddha mengajar Dharma. Ia mengusulkan rencana ini: ‘Setiap malam aku akan berpura-pura tinggal di dalam wihara. Setelah beberapa waktu, kalian sewalah orang untuk membunuhku dan menguburkan tubuhku di taman wihara. Tiga hari kemudian, suruhlah orang-orang berpura-pura mencari tubuhku. Mereka harus datang ke tempat penguburanku, menggali tubuhku, meletakkannya di atas kereta kuda, lalu membawanya berkeliling kota untuk mencemarkan nama baik petapa Gotama dan para muridnya. Dengan demikian, kehormatan dan nama baiknya akan rusak berat, dan pasti tidak akan ada lagi orang yang menghormatinya.’ Setelah mendengar rencana itu, para guru aliran lain menganggapnya sangat masuk akal dan cocok, lalu mereka melaksanakannya. Benar saja, ketika mereka menggali tubuhnya dari tumpukan sampah, semua orang tampak sangat berduka, bersedih, menangis, dan meratap. Setelah itu mereka membawa tubuh Sundarī berkeliling kota, menggunakan segala macam kata-kata keras untuk menghina dan memfitnah Buddha serta Sangha. Ketika peristiwa itu sampai kepada Buddha, beliau berkata kepada para bhikkhu agar tetap menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa dan jangan menunjukkan rasa terganggu atau marah. Karena sebagian bhikkhu belum mencapai tingkat arahat, tentu mereka masih memiliki kekotoran batin, sehingga merasa sangat terganggu dan kesal oleh fitnah dan cacian itu. Buddha berkata bahwa dalam waktu tidak lebih dari tujuh hari, semuanya akan kembali pada tempatnya. Artinya, kebenaran akan tersingkap. Benar demikian, ketika berita itu sampai kepada raja, tentu saja raja tidak percaya bahwa Buddha dan Sangha melakukan perbuatan seperti itu. Karena itu, raja memerintahkan para penyelidik untuk mengikuti jejak dan menyelidiki rencana aliran-aliran lain tersebut. Para penyelidik menemukan sekelompok penjahat yang sedang mabuk dan bertengkar satu sama lain mengenai pembunuhan Sundarī. Maka seluruh kelompok itu ditangkap. Mereka semua dihukum sesuai hukum yang berlaku atas kejahatan fitnah dan pembunuhan tersebut. Setelah itu, nama baik dan kewibawaan Buddha justru semakin meningkat berlipat-lipat, dan orang-orang semakin sepenuh hati menghormati beliau serta belajar mengikuti ajaran beliau. Demikianlah akhir ringkasan kisah tersebut. Dalam syair ini, Buddha menasihati dan menekankan beratnya dosa berdusta: mengatakan ada ketika tidak ada, dan mengatakan tidak ada ketika ada. Dosa berdusta merupakan salah satu dari empat pelanggaran berat dalam disiplin para bhikkhu, dan juga merupakan pelanggaran berat dalam sila Bodhisattwa. Menurut disiplin yang diajarkan Buddha, pelanggaran seperti ini tidak dapat dianggap ringan atau dihapus begitu saja; akibat karmanya sangat berat dan mengarah pada penderitaan neraka. Di antara tiga jenis karma—jasmani, ucapan, dan pikiran—bila diteliti dengan saksama, karma buruk mana pun yang diciptakan melalui ketiganya dapat menjadi berat. Tindakan atau ucapan apa pun yang mengandung niat jahat pasti menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain. Lebih luas lagi, ia membawa penderitaan bagi semua makhluk. Dalam sepuluh perbuatan tidak bajik—tiga melalui tubuh, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran—kita melihat bahwa ucapan menempati empat bagian: berdusta, berkata sia-sia, memecah belah, dan berkata kasar. Dengan kata lain, tubuh dan ucapan mencakup tujuh bagian, sedangkan tiga bagian sisanya termasuk karma pikiran. Tubuh dan ucapan adalah alat atau pembantu yang sangat efektif dari pikiran. Perbuatan yang tampak dan menimbulkan penderitaan bagi manusia serta makhluk lain secara langsung dilakukan oleh tubuh dan ucapan. Tetapi pikiranlah yang menjadi pemimpin yang memberi perintah, seperti markas besar. Pikiran ini memiliki tiga jenderal yang kuat sebagai tangan dan pembantu setianya, menerima perintah dan langsung memerintahkan tubuh serta ucapan agar patuh sepenuhnya. Tiga jenderal yang bekerja sama secara kuat itu adalah keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Orang yang tidak tahu cara berlatih sepenuhnya hidup sebagai budak yang diperintah oleh nafsu keinginan, sehingga menimbulkan banyak bencana bagi diri sendiri dan orang lain. Mereka tidak pernah tahu bagaimana mengendalikan keinginan. Dari situlah karma tubuh dan ucapan mereka menciptakan sangat banyak kesalahan. Itu adalah gambaran tentang orang yang tidak mengenal latihan spiritual. Lalu bagaimana dengan orang yang sedikit mengenal latihan? Golongan ini mungkin takut berbuat salah, tahu membaca kitab suci, menjalankan pantangan, mengingat Buddha, pergi ke wihara, dan menimbun jasa, tetapi mereka masih menderita penyakit karma ucapan yang sangat berat. Bila mereka tidak menyukai seseorang, mereka mengarang cerita, membuat tuduhan, mengkritik, dan berbicara buruk dengan segala macam cara; yang tidak ada dikatakan ada, yang ada dikatakan tidak ada. Mereka pandai membesar-besarkan perkara kecil. Mereka mencari segala cara untuk menjelekkan orang lain. Mereka mencium siapa saja yang juga tidak menyukai orang yang mereka benci, lalu mereka masuk ke dalam kelompok itu dan menarik orang-orang tersebut menjadi pihak mereka. Tujuannya adalah memperoleh lebih banyak sekutu, agar banyak orang bersama-sama membenci orang yang ingin mereka hancurkan. Secara lahiriah, di depan orang banyak, mereka memperlihatkan diri seolah-olah berlatih dengan sangat baik, serius, dan benar. Tetapi di belakang orang, mereka mengejek, mencibir, mencela, dan berbicara sangat buruk tentang orang yang mereka benci. Jika seseorang berlatih dengan hati yang beracun seperti itu, latihan macam apakah itu? Itu hanyalah kebajikan palsu di luar untuk menipu pandangan orang. Latihan seperti itu sungguh munafik dan menipu. Bagi orang seperti ini, pintu neraka sedang terbuka lebar menunggu mereka. Sungguh patut dikasihani. Buddha berkata bahwa ini adalah penyakit berat para makhluk. Penyakit ini seperti wabah besar yang sangat sulit disembuhkan. Ini adalah penyakit umum umat manusia, bukan milik satu orang saja. Namun, secara relatif, penyakit ini pada kaum laki-laki tampaknya lebih sedikit. Yang paling berat, harus dikatakan, sering tampak pada kaum perempuan. Dalam hal membuat jasa, memberi dana, pergi ke wihara, dan belajar Dharma, kaum perempuan sering menunjukkan ketekunan yang jauh lebih besar daripada kaum laki-laki. Tetapi mengenai kebiasaan karma ucapan yang buruk ini, bagi mereka sangat sulit untuk ditinggalkan. Namun janganlah lupa: bila sebab yang tidak bajik sudah ditanam, bagaimana mungkin buah penderitaan dapat dihindari? Hanya cepat atau lambat buah itu akan datang kepada diri kita. Mengikuti ajaran Buddha di atas, masing-masing dari kita hendaknya berhati-hati menjaga ucapan. Jangan pernah berbicara buruk, mengkritik dengan niat menyakiti, mengejek, menyerang, atau merugikan siapa pun. Semakin kita menjelekkan, memfitnah, atau menghina orang lain, pertama-tama kita sudah mendatangkan penderitaan bagi diri sendiri. Hati kita selalu tidak tenang, dan akibat karmanya pasti membuat kita menderita. Semua jasa kebajikan dari latihan dapat dibakar habis oleh mulut kita sendiri. Karena itu, para Buddha dan para guru luhur menasihati orang yang tahu berlatih agar menggunakan ucapan penuh kasih dan ucapan benar dalam berhubungan dengan semua orang. Terutama ketika berhadapan langsung dengan anggota keluarga. Bila setiap orang tahu menggunakan kata-kata yang lembut, ramah, dan penuh pertimbangan, memilih kata-kata yang menyenangkan satu sama lain, betapa hangat, bahagia, dan indah keluarga itu. Dalam keluarga sering terjadi pertengkaran, suara keras, dan perebutan menang-kalah karena masing-masing menganggap ringan yang lain, kurang mau mengalah, dan tidak saling menghormati. Karena hidup bersama setiap hari, masing-masing memperlihatkan kekurangan dan sifat buruknya, sehingga tidak ada lagi rasa hormat dan penghargaan satu sama lain. Dari sana timbullah pertengkaran, penghinaan, dan sikap saling merendahkan. Lalu hubungan kasih sayang menjadi retak dan berubah menjadi kebencian, kemarahan, dendam, serta saling menyalahkan. Bila setiap orang pandai menerapkan ajaran Buddha, menggunakan ucapan penuh kasih ketika berbicara, dan setiap kata disertai perhatian penuh serta ketulusan saat berinteraksi, maka ketika satu orang berbicara, yang lain benar-benar hadir dengan hormat dan mendengarkan sepenuh hati. Jika demikian, bagaimana mungkin terjadi pertengkaran keras untuk saling mengalahkan? Kita hendaknya ingat bahwa mengalah dan bersabar adalah sifat yang sangat luhur, dan sifat itu menjadi perekat yang menumbuhkan keharmonisan, kasih sayang, serta ikatan yang lebih erat dalam kehangatan keluarga. Jika di luar ada sikap saling menghormati dan di dalam ada kesabaran, serta setiap orang pandai menghargai satu sama lain, adakah yang lebih indah daripada itu? Sebagai umat Buddha, kita harus bertekad kuat untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak benar. Kita perlu mengucapkan kata-kata yang membawa kedamaian, kegembiraan, dan manfaat bagi semua orang. Kita bertekad untuk tidak mengucapkan hal-hal yang dapat menimbulkan pertentangan, perpecahan, dan ketidakharmonisan dalam keluarga maupun komunitas. Lebih dari siapa pun, kita harus menyadari bahwa kata-kata kasar dan jahat akan secara langsung merugikan diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dalam banyak hal. Semoga setiap orang, demi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan sesama, memperhatikan sungguh-sungguh persoalan ini. Kisah yang telah diceritakan secara ringkas di atas memperlihatkan dengan jelas sebab dan akibat yang hadir seketika. Karena iri hati dan keinginan mencelakakan Buddha, para guru aliran lain mencari segala cara untuk menjatuhkan nama baik dan kehormatan Buddha. Mereka menggunakan siasat yang sangat kejam, bahkan sampai mengorbankan nyawa manusia, untuk menyebarkan fitnah dan mencemarkan Buddha serta Sangha. Tetapi hasilnya, bukan saja mereka tidak dapat mencelakakan Buddha, mereka justru mendatangkan bencana bagi diri sendiri. Dari sini kita tahu bahwa mencelakakan orang lain akhirnya kembali mencelakakan diri sendiri. Merenungkan kisah ini, kiranya cukup menjadi cermin yang terang bagi siapa pun yang menyimpan niat jahat untuk merugikan orang baik, agar mereka berhati-hati dan memeriksa kembali keadaan batinnya sendiri.
Asisten Zen AI
Aktif