9. Seseorang yang menghukum mereka yang tidak patut dihukum dan tidak bersalah; akan segera memperoleh salah satu di antara sepuluh keadaan berikut:
Bukan karena aturan dan kewajiban, bukan karena banyak belajar, bukan karena mencapai penyerapan, bukan karena hidup menyendiri, dan bukan karena berpikir, "Aku menikmati kebahagiaan pelepasan yang tidak dialami oleh orang awam" – hendaknya kalian, para bhikkhu, berpuas diri, sampai tercapainya penghancuran total noda-noda (Arahat).
Catatan Mendalam
Dua syair ini diajarkan oleh Buddha di Vihara Jetavana, terkait dengan beberapa bhikkhu yang berbudi luhur. Beberapa bhikkhu yang memiliki kesempurnaan moral berpikir dalam hati: "Kami memiliki moralitas penuh, kami mempraktikkan ajaran murni, kami berpengetahuan luas, kami hidup dalam pengasingan, kami telah mengembangkan kekuatan batin melalui meditasi. Karena itu, mencapai kesucian arahat tidak sulit bagi kami; kami bisa menjadi arahat kapan pun kami mau." Demikian pula, mereka yang telah mencapai tahap tidak kembali juga berpikir: "Bagi kami, mencapai kesucian arahat tidak sulit." Suatu hari mereka pergi menemui Buddha, memberi hormat, dan duduk di satu sisi. Buddha bertanya: "Para bhikkhu, apakah kalian telah menyelesaikan tugas kalian?" Mereka menjawab: "Bhagavā, kami telah mencapai tahap kesucian begini dan begitu; kapan pun kami mau, kami akan mencapai kesucian arahat. Berpikir demikian, kami tetap puas di mana kami berada." Mendengar ini, Buddha mengajarkan: "Para bhikkhu, tidaklah pantas bagi seorang bhikkhu untuk berpuas diri hanya karena ia telah memelihara sila dengan sempurna, atau karena ia telah mencapai tahap ketiga kesucian, dengan berpikir: 'Hanya tersisa sedikit kekotoran dalam kehidupan saya sekarang.' Sebaliknya, selama noda-noda belum sepenuhnya dihilangkan, seseorang tidak berhak mengaku telah benar-benar mencapai." Pada kesempatan itu Buddha mengucapkan dua syair ini. (Kutipan dari Kumpulan Kisah Dhammapada
Ayat 272 dari Dhammapada, "Bukan karena aturan dan kewajiban, bukan karena banyak belajar, bukan karena mencapai penyerapan, bukan karena hidup menyendiri, dan bukan karena berpikir, 'Aku menikmati kebahagiaan pelepasan yang tidak dialami oleh orang awam' – hendaknya kalian, para bhikkhu, berpuas diri, sampai tercapainya penghancuran total noda-noda (Arahat)," mengajarkan tentang pentingnya tidak berpuas diri dalam praktik spiritual.
Penjelasan:
Ayat ini mengingatkan para bhikkhu (dan kita semua) bahwa pencapaian spiritual sejati bukanlah tentang mematuhi aturan semata, memiliki banyak pengetahuan, mencapai kondisi meditasi yang mendalam, hidup menyendiri, atau merasakan kebahagiaan sementara dari pelepasan. Semua itu adalah langkah-langkah penting, tetapi bukan tujuan akhir.
Kisah di balik ayat ini menceritakan tentang para bhikkhu yang merasa puas dengan pencapaian moralitas atau tingkat kesucian tertentu, berpikir bahwa mereka bisa mencapai Arahat kapan saja. Buddha mengoreksi pandangan ini, menegaskan bahwa kepuasan diri tidak boleh muncul sampai semua noda batin (kilesa) benar-benar musnah.
Makna utamanya adalah bahwa jalan menuju pencerahan penuh (Arahat) menuntut ketekunan tanpa henti dan tidak ada ruang untuk kepuasan diri sebelum tujuan akhir tercapai. Kita harus terus berjuang untuk membersihkan batin dari semua kekotoran, tidak peduli seberapa jauh kita telah melangkah.
Apakah Anda melihat ada area dalam praktik Anda di mana Anda mungkin merasa terlalu puas diri?
🌿
Asisten Zen AI
Aktif
Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 272. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?
⭐
Simpan Ayat Favorit
Untuk menyimpan dan meninjau ayat-ayat Dhammapada favorit Anda kapan saja, silakan masuk ke WebApp atau aplikasi TU.