8. Apabila orang bodoh melakukan kejahatan, ia tak mengerti akibat dan perbuatannya. Orang bodoh tersiksa oleh perbuatannya sendiri, seperti orang yang terbakar oleh api. %
Bukan karena aturan dan kewajiban, bukan karena banyak belajar, bukan karena mencapai penyerapan, bukan karena hidup menyendiri, dan bukan karena berpikir, "Aku menikmati kebahagiaan pelepasan yang tidak dialami oleh orang awam" – hendaknya kalian, para bhikkhu, berpuas diri, sampai tercapainya penghancuran total noda-noda (Arahat).
Catatan Mendalam
Dua syair ini diajarkan oleh Buddha di Vihara Jetavana, terkait dengan beberapa bhikkhu yang berbudi luhur. Beberapa bhikkhu yang memiliki kesempurnaan moral berpikir dalam hati: "Kami memiliki moralitas penuh, kami mempraktikkan ajaran murni, kami berpengetahuan luas, kami hidup dalam pengasingan, kami telah mengembangkan kekuatan batin melalui meditasi. Karena itu, mencapai kesucian arahat tidak sulit bagi kami; kami bisa menjadi arahat kapan pun kami mau." Demikian pula, mereka yang telah mencapai tahap tidak kembali juga berpikir: "Bagi kami, mencapai kesucian arahat tidak sulit." Suatu hari mereka pergi menemui Buddha, memberi hormat, dan duduk di satu sisi. Buddha bertanya: "Para bhikkhu, apakah kalian telah menyelesaikan tugas kalian?" Mereka menjawab: "Bhagavā, kami telah mencapai tahap kesucian begini dan begitu; kapan pun kami mau, kami akan mencapai kesucian arahat. Berpikir demikian, kami tetap puas di mana kami berada." Mendengar ini, Buddha mengajarkan: "Para bhikkhu, tidaklah pantas bagi seorang bhikkhu untuk berpuas diri hanya karena ia telah memelihara sila dengan sempurna, atau karena ia telah mencapai tahap ketiga kesucian, dengan berpikir: 'Hanya tersisa sedikit kekotoran dalam kehidupan saya sekarang.' Sebaliknya, selama noda-noda belum sepenuhnya dihilangkan, seseorang tidak berhak mengaku telah benar-benar mencapai." Pada kesempatan itu Buddha mengucapkan dua syair ini. (Kutipan dari Kumpulan Kisah Dhammapada
Ayat 271 dari Dhammapada, "Bukan karena aturan dan kewajiban, bukan karena banyak belajar, bukan karena mencapai penyerapan, bukan karena hidup menyendiri, dan bukan karena berpikir, 'Aku menikmati kebahagiaan pelepasan yang tidak dialami oleh orang awam' – hendaknya kalian, para bhikkhu, berpuas diri, sampai tercapainya penghancuran total noda-noda (Arahat)," mengajarkan bahwa pencapaian spiritual sejati tidak berhenti pada praktik-praktik lahiriah atau bahkan pencapaian batin tertentu.
Kisah di balik ayat ini menceritakan para bhikkhu yang merasa puas dengan kemajuan mereka, seperti kesempurnaan moral atau pencapaian tahap kesucian tertentu, dan berpikir bahwa Arahatship akan datang dengan mudah. Namun, Buddha mengingatkan bahwa kepuasan diri sebelum semua noda (kilesa) sepenuhnya dihilangkan adalah keliru.
Makna utamanya adalah bahwa seorang praktisi tidak boleh berpuas diri sampai semua kekotoran batin, seperti keserakahan, kebencian, dan delusi, benar-benar lenyap. Tujuan akhir adalah pembebasan total, yaitu Arahatship, dan perjalanan spiritual harus terus berlanjut tanpa henti sampai tujuan itu tercapai.
Apakah Anda melihat ada area dalam praktik Anda di mana Anda mungkin merasa puas terlalu dini?
🌿
Asisten Zen AI
Aktif
Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 271. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?
⭐
Simpan Ayat Favorit
Untuk menyimpan dan meninjau ayat-ayat Dhammapada favorit Anda kapan saja, silakan masuk ke WebApp atau aplikasi TU.