8. Bilamana orang bijaksana telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, maka ia akan bebas dari kesedihan, seakan memanjat menara kebijaksanaan dan memandang orang-orang yang menderita di sekelilingnya, seperti orang yang berdiri di atas gunung memandang mereka yang berada di bawah.
Orang bodoh dan dungu tenggelam dalam kelengahan, namun orang bijak menjaga kewaspadaannya seperti harta karun terbaiknya.

Catatan Mendalam

Sang Buddha mengajarkan bahwa meskipun kita tahu kita memiliki "pulau" batin ini, tidak ada gunanya jika kita tidak bersungguh-sungguh kembali kepadanya untuk berlindung. Dalam bait 26, karena belas kasih, Sang Buddha menegur ketidaktahuan dan kelengahan kita. Perbedaan antara penderitaan dan kebahagiaan terletak pada perbedaan antara orang bijak dan orang bodoh. Orang bijak menjaga pikirannya dengan rajin dan hati-hati, mencegah munculnya pikiran-pikiran yang mengembara, seperti orang kaya yang menjaga harta karunnya dari pencuri. Kita semua pada dasarnya memiliki kekayaan spiritual yang luar biasa, tetapi karena kita gagal menjaganya, "pencuri" (kekotoran batin) terus-menerus merampok kita. Sekali kita tahu cara melindungi pikiran kita, tidak ada pencuri yang bisa merampas harta batin kita.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 26. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?