8. Tetapi ia yang telah memotong, mencabut dan memutuskan akar sifat iri hati, kekikiran serta dusta; maka orang bijaksana yang telah menyingkirkan segala keburukan itu sesungguhnya yang dapat disebut orang baik. *
Tidak ada jejak di angkasa, dan tidak ada petapa di luar (ajaran Buddha). Umat manusia bergembira dalam keduniawian, tetapi para Buddha bebas dari keduniawian.

Catatan Mendalam

Kisah ini berhubungan dengan petapa pengembara Subhadda, ketika Sang Bhagavā akan memasuki parinibbana di hutan Sala di kota Kusinara. Dikatakan bahwa sebelumnya, putra Subhadda telah mempersembahkan kepada Buddha sebanyak sembilan kali hasil panen pertama, tetapi Subhadda sendiri tidak setuju dan menolak, akhirnya baru bersedia mempersembahkan. Karena itu, ia tidak bertemu dengan Sang Bhagavā ketika Beliau baru mencapai penerangan dan mengajarkan Dhamma. Pada akhirnya, ketika Sang Buddha akan memasuki parinibbana, Subhadda berpikir dalam hati: "Aku memiliki tiga keraguan. Aku telah menanyakan para tetua untuk menyelesaikannya. Pada waktu itu, petapa Gotama masih muda, jadi aku tidak pergi bertanya kepadanya. Sekarang saat Nibbana-Nya sudah dekat; jika aku tidak bertanya, aku akan menyesal nanti." Ia pergi ke tempat Sang Buddha. Yang Mulia Ananda mencoba menghentikannya, tetapi Sang Buddha berkata: "Ananda, jangan hentikan Subhadda; biarkan dia masuk dan bertanya." Subhadda masuk, duduk di kaki tempat tidur, dan bertanya kepada Buddha: "Yang Mulia, adakah jalan di angkasa? Adakah seseorang yang disebut petapa di luar jalan sejati? Dapatkah hal-hal yang terkondisi menjadi abadi?" Sang Buddha mengajarkannya bahwa hal-hal itu tidak mungkin, dan karena itu Beliau mengucapkan dua syair ini.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 254. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?