7. Bukan hanya karena pandai bicara, dan bukan pula karena memiliki wajah bagus seseorang dapat menyebut dirinya orang baik apabila ia masih bersifat iri, kikir dan suka menipu.
Dia yang selalu mencari kesalahan orang lain, yang selalu mencela—noda-noda batinnya akan terus tumbuh. Ia semakin jauh dari kehancuran noda-noda batin tersebut.

Catatan Mendalam

Buddha membabarkan bait ini di Vihara Jetavana mengenai seorang bhikkhu bernama Ujjhanasanni, yang terkenal karena obsesinya mengkritik perilaku dan penampilan bhikkhu lainnya. Ketika para bhikkhu melaporkan tindakannya kepada Buddha, Beliau mengajarkan bahwa seseorang yang fokus pada kesalahan orang lain hanya akan memicu noda batinnya sendiri. Buddha menjelaskan bahwa sikap suka mencela adalah kebalikan dari praktik kesadaran (mindfulness) dan introspeksi diri. Beliau memperingatkan bahwa kebiasaan ini tidak hanya menghasilkan kemarahan dan kebencian—yang mengganggu kedamaian batin—tetapi juga menciptakan hambatan menuju pencerahan. Praktik yang sejati, tegas Buddha, membutuhkan kultivasi introspeksi; seorang praktisi harus terus memantau pikiran mereka sendiri melalui 'Sila, Samadhi, dan Panna' (Moralitas, Konsentrasi, dan Kebijaksanaan). Bait ini berfungsi sebagai ajaran fundamental bahwa jalan menuju pembebasan ditemukan dengan mengalihkan pandangan ke dalam untuk memurnikan pikiran sendiri, bukan ke luar untuk menghakimi tindakan orang lain.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 253. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?