2. Ia yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-gesa, bersikap adil dan tidak berat sebelah, yang senantiasa menjaga kebenaran, pantas disebut orang adil.
Orang memberikan persembahan berdasarkan keyakinan atau rasa hormatnya. Jika seseorang merasa tidak puas dengan makanan dan minuman yang diberikan kepada orang lain, maka ia tidak akan mencapai ketenangan batin (samadhi), baik di siang hari maupun di malam hari.

Catatan Mendalam

Buddha membabarkan bait ini di Vihara Jetavana mengenai seorang samanera bernama Tissa. Tissa memiliki kebiasaan buruk suka mengkritik persembahan yang diberikan umat awam kepada Buddha dan Sangha. Ia membandingkan kualitas makanan dan membanggakan latar belakang keluarganya secara tidak jujur. Setelah para bhikkhu mengetahui asal-usulnya yang rendah dan melaporkannya kepada Buddha, Beliau menjelaskan bahwa Tissa telah menunjukkan kebiasaan sombong ini sejak kehidupan lampau. Buddha memperingatkan bahwa mereka yang iri atau tidak puas dengan persembahan yang diterima orang lain tidak akan mencapai konsentrasi batin (samadhi). Bait ini mengajarkan pentingnya 'mudita' (kegembiraan simpatik). Alih-alih merasa iri, praktisi harus melatih hati untuk ikut bersukacita atas kebajikan orang lain. Dengan melepaskan rasa iri, seseorang mencapai kebajikan yang setara melalui kemurnian niat.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 249. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?