10. Siapakah yangjayak merendalikan orang yang tanpa cela seperti sepotong emas mumi? Para dewa-akan selalu memujinya, begitu pula para Brahmana.
Barangsiapa dapat meredam kemarahan yang bangkit, bagaikan seorang kusir menghentikan kereta yang sedang melaju kencang, dialah yang disebut pengendali diri sejati; selainnya hanyalah sekadar memegang tali kendali.

Catatan Mendalam

Kisah ini terjadi di biara Aggalava, melibatkan seorang bhikkhu yang tanpa sengaja melukai anak dari sesosok dewi pohon saat sedang mencari kayu. Sang dewi pohon yang murka berniat membalas dendam, namun ia tersadar bahwa tindakan itu akan membawanya ke neraka. Ia kemudian menemui Sang Buddha. Setelah mendengar ceritanya, Sang Buddha memuji tindakannya karena mampu menahan amarah, layaknya kusir yang mengendalikan kereta yang melaju kencang. Setelah mendengarkan ajaran Sang Buddha, sang dewi mencapai tingkat kesucian pertama. Sang Buddha kemudian menetapkan peraturan bagi para bhikkhu untuk tidak menebang pohon. Kisah ini mengajarkan bahwa penguasaan diri sejati adalah kemampuan mengendalikan amarah yang bergejolak. Seseorang yang mampu menghentikan impuls emosi negatif sebelum bertindak adalah pengendali diri yang ulung, sementara mereka yang membiarkan amarah menguasai diri hanyalah memegang kendali semu.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 222. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?