2. Barangsiapa dapat menahan kemarahannya yang memuncak seperti menahan kereta yang sedang melaju, ia patut disebut sais sejati. Sedangkan sais lainnya hanya sebagai pemegang kendali belaka.
Dari nafsu keinginan muncul kesedihan, dari nafsu keinginan muncul ketakutan. Bagi mereka yang telah sepenuhnya bebas dari nafsu keinginan, tiada lagi kesedihan, apalagi ketakutan.
Catatan Mendalam
Kisah ini terjadi di dekat Vesali, melibatkan para pangeran Licchavi yang awalnya tampil mempesona bak dewa, namun akhirnya saling melukai karena dipicu oleh nafsu berahi terhadap seorang wanita. Buddha mengajarkan bahwa di mana ada nafsu keinginan (kama), di situ pasti terdapat penderitaan dan kekacauan. Nafsu sering kali membutakan manusia terhadap moralitas dan kemanusiaan. Dalam ajaran Buddha, keinginan terbagi menjadi keinginan yang mencemari (taphā) dan aspirasi yang baik (kusala-chanda) untuk kebajikan. Agar hidup damai dan terbebas dari penderitaan, manusia hendaknya membatasi nafsu duniawi dan pada akhirnya melepaskan kemelekatan yang menjadi akar dari ketakutan dan kecemasan.
Ayat ini mengajarkan tentang pengendalian diri yang sejati. Seseorang yang mampu menahan kemarahan yang memuncak, seperti seorang sais yang mengendalikan kereta yang melaju kencang, adalah sais sejati dalam hidup. Ini berarti ia memiliki kendali penuh atas batinnya.
Sebaliknya, mereka yang hanya memegang kendali tanpa bisa menahan laju kereta kemarahan, hanyalah sais biasa. Mereka mungkin memiliki keinginan untuk mengendalikan, tetapi tidak memiliki kekuatan batin untuk melakukannya.
Kisah para pangeran Licchavi menunjukkan bagaimana nafsu dan kemarahan dapat menyebabkan penderitaan dan kekacauan. Dengan mengendalikan nafsu dan kemarahan, kita dapat mencapai kedamaian dan kebebasan dari penderitaan.
Bagaimana Anda melihat diri Anda sebagai seorang sais dalam hidup Anda?
🌿
Asisten Zen AI
Aktif
Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 214. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?
⭐
Simpan Ayat Favorit
Untuk menyimpan dan meninjau ayat-ayat Dhammapada favorit Anda kapan saja, silakan masuk ke WebApp atau aplikasi TU.