3. Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan kalahkan kejahalan dengan kebajikkan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohonga’n dengar kejujuran.
Dari nafsu berahi muncul kesedihan, dari nafsu berahi muncul ketakutan. Bagi mereka yang telah sepenuhnya bebas dari nafsu berahi, tiada lagi kesedihan, apalagi ketakutan.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan oleh Sang Buddha di Vihara Jetavana dan berkisah tentang seorang pemuda bernama Anitthigandha Kumàra. Menurut cerita, Kumàra, yang terlahir kembali dari surga Brahma, lahir dalam keluarga bangsawan di kota Sāvatthī. Sejak lahir hingga dewasa, ia tidak tertarik dekat dengan wanita. Meski orang tuanya berkali-kali menyarankan agar ia menikah, ia selalu menolak. Suatu kali, ia memerintahkan para pengrajin membuat patung seorang gadis cantik luar biasa. Ketika orang tuanya menekannya untuk menikah, ia menunjuk patung itu dan berkata, 'Aku akan menikah hanya dengan wanita seindah patung ini.' Untuk memenuhi keinginannya, orang tuanya mengirim patung itu ke berbagai tempat mencari gadis seperti itu. Suatu hari, patung itu ditempatkan di dekat kolam mandi, dan seseorang berkata bahwa patung itu sangat mirip dengan putrinya. Ternyata benar, ada seorang gadis yang bahkan lebih cantik dari patung tersebut. Mendengar hal ini, Kumàra merasa senang dan ingin segera bertemu dengannya. Namun, dalam perjalanan menuju rumahnya, gadis itu jatuh sakit dan meninggal. Harapan Kumàra hancur seketika, dan ia sangat berduka. Sang Buddha, melihat kesempatan untuk menuntunnya cepat menuju pencerahan, mengunjungi rumah Kumàra dan diterima dengan hangat. Buddha memberi banyak nasihat, akhirnya menyatakan: 'Kumàra, kesedihan muncul dari keterikatan; duka dan ketakutan lahir dari nafsu.' Setelah mendengar itu, Kumàra mencapai tahap Stream-Enterer. Kisah ini menunjukkan bagaimana penderitaan manusia, fisik maupun mental, sering timbul dari keinginan dan keterikatan yang tidak terpenuhi. Meskipun hidup dalam kemewahan, Kumàra mengalami kesedihan mendalam karena wanita yang tak tergapai, menyoroti kekuatan dahsyat dari nafsu dan keterikatan. Bimbingan Buddha membebaskannya dari gelombang keinginan yang luar biasa, menunjukkan pentingnya memahami dan meninggalkan keterikatan sensual. Dalam konteks masa kini, banyak pemuda juga menderita karena cinta, namun tanpa bimbingan bijaksana seperti Kumàra. Syair ini menjadi peringatan: dengan melekat pada kesenangan duniawi, seseorang hanya menimbulkan duka, kekhawatiran, dan ketakutan. Kebebasan dan kedamaian sejati datang dari meninggalkan semua keinginan sensual.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 215. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?