17. Ia yang menghormati mereka yang patut dihormati, yakni Para Buddha atau siswa-siswaNya yang telah dapat mengatasi rintangan-rintangan, akan bebas dan kesedihan dan ratap tangis.
Andai pun hujan emas turun, hal itu tidak akan memuaskan nafsu keinginan. Orang bijak memahami bahwa kesenangan indrawi membawa sedikit kepuasan namun banyak penderitaan. Oleh karena itu, janganlah mendambakan kesenangan surgawi sekalipun. Murid sang Buddha hanya mendambakan terhapusnya nafsu keinginan.

Catatan Mendalam

Bait ini, yang diajarkan bersamaan dengan bait 186 di Biara Jetavana, merupakan refleksi lanjutan mengenai ketidakkekalan materi dan pentingnya melepaskan keinginan. Buddha menggunakan kisah biksu yang tergoda oleh warisan kecil untuk menunjukkan bahwa keserakahan tidak memiliki dasar; bahkan hujan emas sekalipun tidak akan pernah cukup memuaskan batin manusia. Catatan ini menekankan bahwa godaan di zaman modern jauh lebih intens, sehingga tekad praktisi untuk menjaga jarak dari nafsu materi menjadi semakin krusial. Kemajuan spiritual bukanlah tentang kesuksesan duniawi, melainkan tentang menghancurkan keserakahan, kebencian, dan delusi. Sebagaimana raja-raja masa lalu meninggalkan takhtanya, praktisi harus menyadari bahwa keterikatan pada nafsu adalah akar dari penderitaan. Hanya dengan memilih jalan pelepasan dan pemurnian batin, seseorang dapat mencapai kebahagiaan sejati.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 187. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?