15. Dalamdunia ini jarangditemukan seseorang yang dapat mengendalikan diri dengan memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, senantiasa waspada, bagaikan seekor kuda yang terlatih baik dapat menghindari cemeti.
Barang siapa melukai orang yang tidak bersenjata dan tidak bersalah, akan segera menanggung sepuluh keadaan ini: penderitaan hebat, kehancuran, cedera fisik, penyakit parah, gangguan mental, masalah dengan pemerintah, tuduhan palsu, kehilangan sanak saudara, kehilangan harta benda, atau rumah yang terbakar habis; dan setelah kematian, orang bodoh itu akan terlahir di neraka.
Catatan Mendalam
Sang Buddha mengajarkan syair-syair ini di wihara Hutan Bambu, berkaitan dengan kematian tragis Y.A. Moggallana. Ia dipukuli hingga tewas oleh para perampok yang disewa oleh petapa aliran lain karena iri hati atas sokongan umat kepada Sang Buddha. Moggallana menerima nasibnya, menyadari bahwa ini adalah akibat karma masa lalu di mana ia membunuh kedua orang tuanya yang buta. Sang Buddha menjelaskan bahwa bahkan seorang Arahat dengan kekuatan batin yang luar biasa tidak dapat menghindari hukum karma. Namun, Arahat tidak menderita secara batiniah karena mereka telah melenyapkan ego. Sang Buddha menegaskan bahwa siapa pun yang menyakiti orang suci dan tidak bersalah akan menghadapi sepuluh penderitaan besar, mulai dari kehilangan harta benda hingga terlahir di neraka. Sang Buddha mengumpamakan menyakiti orang suci seperti meludah ke langit atau melempar debu melawan angin—kejahatan itu akan berbalik kepada pelakunya sendiri. Beliau mengingatkan para praktisi untuk mempraktikkan kesabaran, karena kemarahan sesaat dapat menghancurkan seluruh pahala kebajikan yang telah dikumpulkan seumur hidup.
Ayat ini, meskipun terdaftar sebagai 15, sebenarnya adalah ayat 139 dari Bab 10 (Kekerasan) dalam Dhammapada.
Ayat ini berbicara tentang konsekuensi karma dari menyakiti orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata. Ini menjelaskan bahwa orang yang melakukan tindakan kekerasan seperti itu akan segera menghadapi sepuluh penderitaan besar, termasuk penderitaan fisik, mental, kehilangan, dan akhirnya, kelahiran kembali di alam neraka.
Kisah Yang Mulia Moggallana, yang dipukuli sampai mati, berfungsi sebagai contoh kuat bahwa bahkan seorang Arahat pun tidak dapat menghindari akibat karma masa lalu. Namun, seorang Arahat tidak menderita secara batiniah karena mereka telah melenyapkan ego.
Pesan intinya adalah bahwa tindakan kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah akan selalu kembali kepada pelakunya, seperti meludah ke langit atau melempar debu melawan angin. Ini menekankan pentingnya kesabaran dan menghindari kemarahan, karena kemarahan dapat menghancurkan semua kebajikan yang telah terkumpul.
Bagaimana pemahaman ini memengaruhi pandangan Anda tentang tindakan dan konsekuensinya?
🌿
Asisten Zen AI
Aktif
Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 139. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?
⭐
Simpan Ayat Favorit
Untuk menyimpan dan meninjau ayat-ayat Dhammapada favorit Anda kapan saja, silakan masuk ke WebApp atau aplikasi TU.