14. Walau digoda dengan cara apapun, tetapi bila seseorang dapat menjaga ketenangan pikirannya damai, mantap, terkendali, suci mumi dan tidak lagi menyakiti makhluk lain, sesungguhnya ia adalah seorang brahmana, seorang samana, seorang bhikkhu.
Barang siapa melukai orang yang tidak bersenjata dan tidak bersalah, akan segera menanggung sepuluh keadaan ini: penderitaan hebat, kehancuran, cedera fisik, penyakit parah, gangguan mental, masalah dengan pemerintah, tuduhan palsu, kehilangan sanak saudara, kehilangan harta benda, atau rumah yang terbakar habis; dan setelah kematian, orang bodoh itu akan terlahir di neraka.
Catatan Mendalam
Sang Buddha mengajarkan syair-syair ini di wihara Hutan Bambu, berkaitan dengan kematian tragis Y.A. Moggallana. Ia dipukuli hingga tewas oleh para perampok yang disewa oleh petapa aliran lain karena iri hati atas sokongan umat kepada Sang Buddha. Moggallana menerima nasibnya, menyadari bahwa ini adalah akibat karma masa lalu di mana ia membunuh kedua orang tuanya yang buta. Sang Buddha menjelaskan bahwa bahkan seorang Arahat dengan kekuatan batin yang luar biasa tidak dapat menghindari hukum karma. Namun, Arahat tidak menderita secara batiniah karena mereka telah melenyapkan ego. Sang Buddha menegaskan bahwa siapa pun yang menyakiti orang suci dan tidak bersalah akan menghadapi sepuluh penderitaan besar, mulai dari kehilangan harta benda hingga terlahir di neraka. Sang Buddha mengumpamakan menyakiti orang suci seperti meludah ke langit atau melempar debu melawan angin—kejahatan itu akan berbalik kepada pelakunya sendiri. Beliau mengingatkan para praktisi untuk mempraktikkan kesabaran, karena kemarahan sesaat dapat menghancurkan seluruh pahala kebajikan yang telah dikumpulkan seumur hidup.
Ayat ini menjelaskan bahwa seseorang yang melukai makhluk tak bersenjata dan tak bersalah akan segera menghadapi sepuluh penderitaan besar, seperti penyakit, kehilangan harta, hingga terlahir di neraka.
Kisah Y.A. Moggallana, yang meskipun seorang Arahat, tetap menerima akibat karma masa lalunya, menunjukkan bahwa hukum karma berlaku bagi semua. Namun, seorang Arahat tidak menderita secara batiniah karena telah melenyapkan ego.
Menyakiti orang suci diibaratkan meludah ke langit, kejahatan itu akan kembali kepada pelakunya. Oleh karena itu, kesabaran sangat penting, karena kemarahan sesaat dapat menghancurkan kebajikan yang telah terkumpul.
Apakah ada bagian dari penjelasan ini yang ingin Anda renungkan lebih lanjut?
🌿
Asisten Zen AI
Aktif
Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 138. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?
⭐
Simpan Ayat Favorit
Untuk menyimpan dan meninjau ayat-ayat Dhammapada favorit Anda kapan saja, silakan masuk ke WebApp atau aplikasi TU.