5. Pembuat kebaj ikan hanya melihat hal yang buruk selama buah perbuatan bajiknya belum masak; tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat- akibatnya yang baik.
Bersegeralah berbuat baik; kendalikan pikiranmu dari kejahatan. Barang siapa lamban dalam berbuat baik, pikirannya akan bersenang dalam kejahatan.

Catatan Mendalam

Kebaikan dan kejahatan adalah kekuatan yang berlawanan, keduanya berasal dari pikiran. Menurut psikologi Buddhis, faktor-faktor mental yang tidak bajik pada manusia biasa sering kali lebih banyak daripada yang bajik. Akibatnya, masyarakat sering mengalami konflik. Tindakan didorong oleh pikiran yang cenderung menghitung kepentingan pribadi, dengan mudah condong pada pemikiran buruk yang mendikte tindakan fisik dan ucapan yang merugikan. Berbuat baik itu sesulit mendaki gunung yang terjal, sedangkan berbuat jahat itu semudah meluncur ke bawah. Karena tindakan bajik membutuhkan usaha besar, Buddha mendesak kita untuk bersegera berbuat baik. Ketika pikiran dibiarkan menganggur, ia mudah melayang ke arah pikiran negatif. Menyibukkan pikiran dengan aktivitas bajik atau kewaspadaan mencegah munculnya kejahatan. Selain itu, berbuat baik harus menjadi sumber sukacita. Relawan sejati melayani dengan hati yang murni dan lapang, tidak terganggu oleh ego atau reaksi orang lain. Bahkan tindakan kebaikan kecil, yang dikumpulkan dari waktu ke waktu, dapat mengisi dunia dengan welas asih, sama seperti tetesan air yang pada akhirnya memenuhi wadah. Jika umat manusia terus memupuk kebaikan yang penuh sukacita dan tanpa pamrih ini, penderitaan di dunia akan berkurang secara drastis.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 116. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?