4. Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat- akibatnya yang buruk. I
Lebih baik hidup satu hari dengan melihat Kebenaran Tertinggi daripada hidup seratus tahun tanpa pernah melihat Kebenaran Tertinggi.

Catatan Mendalam

Fenomena duniawi pada dasarnya bersifat dualistik dan tunduk pada kemunculan yang saling bergantungan; oleh karena itu, pada akhirnya mereka adalah ilusi. Menghabiskan hidup untuk mengejar fenomena ini bagaikan mencoba menangkap bayangan. Karena kebodohan kita, kita menganggap ilusi ini sebagai kenyataan. Kita seperti orang yang tersesat dalam mimpi panjang. 'Kebenaran Tertinggi' yang disebutkan Buddha adalah sifat sejati kita yang tidak terkondisi—Sifat Buddha kita. Kebenaran tertinggi ini bersifat permanen, tidak berubah, dan melekat pada kita semua. Perbedaan antara Buddha dan makhluk hidup hanyalah bahwa Buddha telah sadar sepenuhnya, seperti emas murni yang diekstraksi dari bijihnya. Kita memiliki emas yang sama, tetapi saat ini tertutup oleh bijih ketidaktahuan. Untuk mengungkap emas murni ini, kita harus rajin 'memoles' batin kita dengan melenyapkan kekotoran batin melalui praktik spiritual. Menggunakan kebijaksanaan Prajna, kita belajar membedakan kebenaran dari ilusi, menyadari bahwa fenomena duniawi hanyalah pantulan di cermin. Setelah kita benar-benar mengenali Kebenaran Tertinggi ini, ilusi-ilusi pun memudar. Seolah-olah penglihatan kita telah disembuhkan sepenuhnya, dan kita disambut oleh kejernihan langit biru yang luas.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 115. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?