6. ’Jangan meremehkan kejahatan walaupun kecil, dengan berkata: “Perbuatan jahat tidak akan membawa akibat.’' Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bodoh sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan.
Jika seseorang melakukan kejahatan, janganlah ia melakukannya berulang kali. Janganlah ia mencari kesenangan di dalamnya, karena sungguh menyakitkan penumpukan kejahatan itu.

Catatan Mendalam

Tindakan jahat pasti membawa kegelisahan batin. Niat menyakiti adalah pelanggaran berat yang menjerumuskan pikiran ke dalam penderitaan yang terus-menerus, seperti hidup di neraka mental. Untuk mencegah hal ini, Buddha menetapkan sila (aturan moral). Karena pikiran manusia yang belum sadar memiliki kecenderungan kuat untuk disesatkan oleh kekotoran batin, sila bertindak sebagai batas pelindung. Jika seseorang jatuh ke dalam kesalahan, Buddha menyarankan untuk segera berhenti. Terus menempuh jalan yang jahat hanya akan memperdalam dosa dan mempercepat kehancuran diri sendiri. Seorang pelaku kejahatan mungkin untuk sementara waktu menghindari keadilan duniawi, tetapi mereka tidak akan pernah bisa lolos dari hukum karma universal. Segala sesuatu memiliki konsekuensi. Beberapa individu, karena keras kepala, kesombongan, atau merasa terjebak, menolak untuk berbalik setelah mereka mulai berbuat salah, membenarkan tindakan mereka sendiri. Namun, jaring karma sangatlah luas, dan tidak ada yang bisa lolos darinya. Mengumpulkan kejahatan menjamin penderitaan di masa depan. Sebaliknya, jika kita terus-menerus merenungkan karma dan berusaha hidup etis, kita menciptakan keberadaan yang harmonis dan damai bagi diri kita sendiri dan dunia.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 117. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?