11. iMereka yang hidup sesuai dengan Dhamma yang telah diterangkan dengan baik, akan mencapai Seberang, menyebrangi alam kematian yang amat sukar untuk diseberangi.
Sama seperti batu karang yang kokoh tidak goyah oleh badai, demikian pula orang bijaksana tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan.

Catatan Mendalam

Dalam syair ini, Sang Buddha menggunakan metafora gunung yang kokoh untuk mewakili konsentrasi dan kebijaksanaan mendalam dari orang bijaksana. Sebuah gunung berdiri teguh menghadapi badai, sama seperti orang bijaksana yang tetap tak tergoyahkan dalam menghadapi pujian dan celaan. Orang bijaksana tidak terpengaruh oleh "delapan angin duniawi" (keuntungan dan kerugian, ketenaran dan aib, pujian dan celaan, kesedihan dan kebahagiaan). Kita harus merenungkan praktik kita sendiri: apakah kita mudah goyah oleh satu kata kritik? Untuk menahan angin ini, kita harus memupuk konsentrasi (Samadhi) dan kebijaksanaan (Prajna) yang mendalam. Kebijaksanaan memungkinkan kita untuk melihat sifat sejati dari semua fenomena sebagai sesuatu yang kosong dan tidak kekal. Dengan menjaga kewaspadaan, kita menjaga pikiran kita seperti penjaga yang waspada melindungi benteng.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 81. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?