3. Jangan bergaul dengan orang jahat, jangan bergaul dengan orang berbudi rendah; tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik, bergaullah dengan orang yang berbudi luhur.
Orang bodoh selalu mendambakan kemasyhuran yang semu: posisi utama di antara para biksu, otoritas atas vihara-vihara, dan penghormatan dari para perumah tangga.

Catatan Mendalam

Bait ini merupakan peringatan keras terutama bagi para melepaskan keduniawian (pabajita). Mereka yang telah meninggalkan keduniawian seharusnya tidak lagi terikat pada lima kemewahan indrawi, khususnya nama baik dan jabatan. Namun, kesombongan spiritual sering kali muncul tanpa disadari. Seseorang mungkin awalnya rendah hati, tetapi setelah menerima penahbisan tinggi, egonya mulai tumbuh. Mereka menuntut penghormatan, merasa tersinggung jika tidak dipanggil dengan gelar tinggi, dan merasa lebih mulia dari umat awam. Kelekatan pada 'diri' (ego) ini melahirkan keserakahan akan persembahan dan kekuasaan atas vihara. Para guru agung mengingatkan bahwa menikmati persembahan umat tanpa melatih diri dengan tulus akan mendatangkan utang karma yang besar. Kemewahan duniawi itu fana bagai embun pagi. Sang Buddha dan para master tercerahkan telah memberikan teladan dengan melepaskan takhta dan hidup dalam kesederhanaan total. Oleh karena itu, jabatan atau kedudukan dalam Sangha seharusnya hanya dipandang sebagai sarana untuk membabarkan Dharma, bukan untuk memuaskan kesombongan batin.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 73. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?