35. Seseorang yang telah menyingkirkan ikatan-ikatan duniawi dan telah mengatasi ikatan-ikatan surgawi, bebas dan semua ikatan, maka ia Kusebut seorang Brahmana.
Barang siapa, dalam kehidupan ini juga, menyadari sendiri akhir dari penderitaan, meletakkan beban, dan mencapai pembebasan, orang seperti itulah yang Kusebut seorang brahmana sejati.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana, berkaitan dengan seorang brahmana. Sebelum ada aturan yang melarang penerimaan pelayan yang melarikan diri dari tuannya ke dalam Sangha, suatu hari seorang pelayan milik seorang brahmana datang memohon penahbisan. Ia diterima ke dalam Sangha dan tidak lama kemudian mencapai tingkat arahat. Sang brahmana mencarinya ke mana-mana, tetapi tidak menemukannya. Suatu hari, Buddha membawa arahat itu masuk ke kota untuk menerima dana makanan. Ketika brahmana melihatnya di gerbang kota, ia menarik jubah bhikkhu itu. Buddha berpaling dan bertanya, “Brahmana, ada apa?” Brahmana itu menjawab, “Guru Gotama, orang ini adalah pelayanku.” Buddha berkata, “Brahmana, beban telah terlepas darinya.” Mendengar hal itu, brahmana itu segera mengerti bahwa orang tersebut telah mencapai tingkat arahat. Ia bertanya lagi, “Benarkah demikian, Guru Gotama?” Buddha menegaskan, “Benar, bebannya telah diletakkan.”

Pada masa Buddha, masyarakat India terbagi dalam empat kelas sosial yang sangat kaku. Kaum brahmana memegang otoritas keagamaan dan mengurus ritual serta persembahan. Kaum ksatria adalah para raja, bangsawan, dan penguasa politik. Kaum waisya terdiri dari pedagang, pemilik tanah, dan orang-orang yang mengurus kegiatan ekonomi. Kaum sudra dipandang sebagai kelas terendah dan sering dipaksa melayani kelas-kelas di atasnya sepanjang hidup. Inilah salah satu bentuk ketidakadilan sosial yang paling nyata sebelum dan pada masa Buddha.

Buddha menantang dan meruntuhkan batas-batas yang tidak adil itu. Beliau membuka jalan bagi semua orang secara setara, tanpa membedakan status, kekayaan, kelahiran, atau kedudukan sosial. Baik terpelajar maupun tidak, mulia maupun miskin, dihormati maupun dipandang rendah, semuanya dapat menerima bimbingan sesuai kemampuan masing-masing. Bahkan orang-orang yang ditolak oleh masyarakat pun, melalui bimbingan Buddha, dapat menjadi manusia yang luhur dan bajik.

Kisah di atas adalah contoh yang jelas. Seorang pelayan datang kepada Buddha untuk memohon penahbisan, dan Buddha menerimanya ke dalam Sangha. Dalam masyarakat yang sangat terikat pada kelas sosial, tindakan ini merupakan revolusi spiritual yang besar. Walaupun Buddha menghadapi penentangan dari masyarakat pada zamannya, beliau tetap teguh mempertahankan ajaran tentang kesetaraan: setiap makhluk memiliki potensi pencerahan, dan siapa pun yang berlatih dengan sungguh-sungguh serta merealisasi kebenaran dapat mencapai pembebasan.

Ajaran ini menghormati kebebasan batin dan martabat spiritual yang setara bagi semua manusia. Karena itu, Buddha tetap kokoh pada pendirian-Nya dan mengatasi berbagai rintangan dari mana pun datangnya. Dalam Sangha terdapat orang-orang dari berbagai latar belakang, dari kalangan kaya dan terhormat hingga mereka yang miskin dan rendah kedudukannya. Namun setelah masuk dan hidup bersama dalam Sangha, pembagian seperti itu harus ditinggalkan. Semua berusaha berlatih dengan tekun dan maju menuju buah dari jalan spiritual. Selain beberapa orang yang menimbulkan perpecahan, komunitas itu hidup dalam keharmonisan, disiplin, dan keluhuran batin.

Karena itulah Buddha mengatakan bahwa mereka telah melepaskan beban berat kekotoran batin dan memperoleh kedamaian dalam pembebasan. Orang yang demikian, menurut Buddha, sungguh layak disebut brahmana sejati.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 402. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?