Catatan Mendalam
Ayat Dhammapada ini diajarkan Buddha di Vihara Jetavana, berkaitan dengan dua orang Brahmin. Kedua Brahmin itu masing-masing memiliki seekor sapi, bernama Si Merah Kecil (Culla Rohita) dan Si Merah Besar (Maha Rohita). Suatu hari mereka berdebat, membandingkan sapi masing-masing, masing-masing mengklaim sapinya yang terbaik. Setelah bertengkar habis-habisan, mereka berpikir untuk menguji kekuatan tarik sapi-sapi itu. Mereka membawa kereta sapi ke tepi sungai Aciravati, memuatnya penuh dengan pasir dan batu, lalu menyuruh sapi menariknya. Tetapi meskipun didesak, kereta tidak bergerak, dan tiba-tiba semua talinya putus. Beberapa bhikkhu yang sedang mandi di sungai melihat kejadian itu dan melaporkannya kepada Buddha. Beliau bersabda: 'Para bhikkhu, itu adalah tali-tali lahiriah, yang dapat dipotong. Tetapi seorang petapa harus memotong tali batiniah yaitu kemarahan dan nafsu keinginan.' (Kutipan dari Kisah Dhammapada Jilid III). Hidup dalam ketidaktahuan dan kesadaran karma, bertengkar soal menang-kalah adalah hal biasa di dunia. Di mana ada perselisihan, di situ ada perbandingan. Dari situlah timbul permusuhan, lalu pembunuhan dan saling menghancurkan. Dunia yang kacau saat ini juga disebabkan oleh sifat kompetitif umat manusia. Pemenang menjadi penguasa, pecundang menjadi buangan—di medan perang maupun pasar, begitulah selalu. Untuk mengalahkan lawan, orang tanpa ragu menggunakan segala cara licik dan taktik kejam. Meskipun cara-cara itu membunuh banyak nyawa manusia, mereka tidak gentar. Betapa mengerikannya kekejaman manusia! Dalam kisah di atas, dua Brahmin bertengkar soal sapi mereka. Meskipun sepele, tanpa mengendalikan kemarahan, hal itu dapat menyebabkan pertumpahan darah. Siapa yang bisa memprediksi sifat kemarahan manusia? Begitu api amarah menyala tinggi, ia membakar segalanya. Percikan kecil dapat membakar seluruh hutan. Melihat tali yang putus, para bhikkhu melaporkannya kepada Buddha. Beliau bersabda: 'Seorang petapa harus memotong tali batiniah yaitu kemarahan dan nafsu keinginan.' Hanya dengan memotong ikatan batin inilah kita dapat terbebas dari semua penderitaan. Adapun tali-tali lahiriah, meskipun dipotong sejuta kali pun tidak berarti, karena tidak ada hubungannya dengan pemberantasan kekotoran batin. Namun di dunia ini, orang lebih menghargai hal-hal material lahiriah daripada kekotoran batin. Karena itulah, Buddha berkata bahwa makhluk terus-menerus tenggelam dalam samsara yang penuh penderitaan—demikianlah.
Asisten Zen AI
Aktif