Catatan Mendalam
Ayat Dhammapada ini diajarkan Buddha di Vihara Hutan Bambu, berkaitan dengan Sesepuh Vakkali. Menurut kisah, di Savatthi, ada seorang pemuda Brahmin. Suatu hari ia melihat tanda-tanda keagungan fisik Buddha dan menjadi sangat terikat, bahkan merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Ia berpikir betapa indahnya dapat melihat ciri-ciri luhur Sang Tathagata sepanjang hari. Maka ia meminta untuk ditahbiskan. Setelah bergabung dengan Sangha, ia mengabaikan kitab suci dan meditasi, hanya mencari tempat untuk menatap bentuk Buddha. Mengetahui hal ini, Buddha menunggu hingga pikirannya matang, lalu mengajarkan: 'Vakkali, kenikmatan apa yang ada dalam melihat komposit tidak murni yang disebut tubuh-Ku? Siapa pun yang melihat Dhamma melihat Aku.' Namun Vakkali tetap bertahan dalam keterikatannya. Buddha kemudian memisahkannya selama tiga masa vassa di Hutan Bambu. Diliputi kesedihan karena tidak melihat Buddha, Vakkali memutuskan untuk naik ke Puncak Vulture dan melompat hingga mati. Buddha, mengetahui bahwa tanpa campur tangan ia akan menghancurkan dirinya dan tidak pernah mencapai kesucian, muncul di hadapannya. Vakkali bersukacita, penderitaannya lenyap, dan ia meninggalkan niat bunuh diri. Kemudian Buddha mengajarkan syair ini, setelah mendengarnya Vakkali, dengan hati gembira, menekan kegembiraannya dan mencapai tingkat arahant dengan kekuatan batin sempurna. (Akhir ringkasan cerita). Pikiran yang gembira adalah pikiran yang tidak lagi terjerat dengan objek eksternal. Keterikatan menghalangi sukacita. Untuk bebas dari belenggu, kita harus memberantas kekotoran batin. Ketika kekotoran batin lenyap, pikiran menjadi gembira dan damai. Dalam kisah ini, Vakkali melihat bentuk agung Buddha dan menjadi terikat padanya. Ajaran Buddha—'Siapa pun yang melihat Dhamma melihat Aku'—mengingatkan kita bahwa bahkan tubuh fisik Buddha adalah komposit sementara, tidak murni dari lima agregat. Melekat pada tubuh yang tidak kekal dan tidak murni itu menghalangi kita melihat tubuh Dhamma yang abadi dan murni. Sayangnya, Vakkali tidak langsung memahami hal ini dan berpikir untuk bunuh diri ketika terpisah dari bentuk Buddha. Untungnya, Buddha campur tangan untuk menyelamatkannya. Agama Buddha tidak pernah menyetujui tindakan tidak bijaksana dan putus asa yang muncul dari frustrasi dan ketidaktahuan.
Asisten Zen AI
Aktif