Catatan Mendalam
Syair ini diajarkan Buddha di Wihara Hutan Bambu berkenaan dengan seorang bhikkhu yang kembali menjadi umat awam. Menurut kisahnya, bhikkhu itu dahulu adalah murid Thera Mahākassapa. Karena tekun berlatih, ia mencapai jhāna keempat. Suatu hari, ia berkunjung ke rumah pamannya, seorang pandai emas. Ketika melihat banyak perhiasan berharga, batinnya terguncang oleh keinginan dan kemelekatan, sehingga ia meninggalkan kehidupan pelepasan. Setelah kembali ke rumah, ia hidup bermalas-malasan dan akhirnya diusir. Sejak itu ia bergaul dengan teman-teman buruk yang hidup dari perampokan. Akhirnya ia ditangkap, disiksa, diikat, dan digiring untuk dihukum mati. Tiba-tiba ia bertemu kembali dengan gurunya. Sang guru menggunakan kekuatan batinnya untuk melonggarkan ikatan itu dan berkata kepadanya agar mengingat kembali objek meditasi yang dahulu pernah ia latih. Menuruti nasihat gurunya, mantan bhikkhu itu segera memasuki jhāna keempat. Walaupun para penjaga memperlakukannya dengan kejam, ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun dan tetap sangat tenang. Melihat hal itu, para penjaga merasa heran dan melaporkannya kepada raja. Setelah mendengar kejadian tersebut, raja memerintahkan agar ia dibebaskan. Orang-orang kemudian datang melaporkan peristiwa luar biasa itu kepada Buddha. Buddha memancarkan cahaya dan menampakkan diri di tempat hukuman, lalu mengucapkan syair ini. Mendengar suara Dharma dari Buddha, mantan bhikkhu itu merenungkan kelahiran dan kematian, memahami kekosongan diri, dan mencapai tingkat pemasuk-arus. Pada akhirnya ia mencapai tingkat arahat. Syair ini diajarkan karena peristiwa seorang bhikkhu yang telah meninggalkan kehidupan duniawi, tetapi batinnya masih menyimpan nafsu dan kemelekatan. Ketika ia melihat perhiasan berharga di rumah pamannya, api keinginan menyala kuat. Karena tidak mampu mengendalikan hasrat, ia meninggalkan kehidupan suci yang luhur dan kembali kepada kehidupan duniawi. Walaupun ia pernah mencapai jhāna keempat, pencapaian itu masih merupakan konsentrasi duniawi dan belum menjamin pembebasan. Setelah pulang ke rumah, ia terseret ke jalan kejahatan dan menjadi pencuri yang hidup di atas penderitaan orang lain. Sesuai hukum sebab dan akibat, ia akhirnya jatuh ke tangan hukum. Namun, karena memiliki seorang guru yang berkekuatan batin tinggi dan memahami kemampuannya, ia diselamatkan dari hukuman mati. Berkat kebiasaan latihan meditasi yang pernah ia kembangkan, dan berkat teguran seorang sahabat spiritual agung yang dahulu sangat ia percayai, ia kembali menetap dalam jhāna keempat dan melupakan semua keadaan di sekelilingnya. Walaupun disiksa dengan kejam, ia tidak menunjukkan kecemasan atau ketakutan. Dari sini dapat diketahui betapa besar kekuatan konsentrasi meditasi. Itu baru konsentrasi duniawi, namun sudah memiliki pengaruh demikian kuat; apalagi konsentrasi para arahat, bodhisattva, dan Buddha. Kisah ini menunjukkan bahwa kebiasaan nafsu keinginan sangat dalam dan berat. Bagi para renunsian, perlu menjaga batin dengan hati-hati dari kecenderungan-kecenderungan tersembunyi seperti itu. Bagi semua praktisi, baik monastik maupun awam, Buddha mengajarkan agar selalu sadar. Dengan kewaspadaan, perhatian murni, dan perenungan benar, kita baru dapat menguasai diri, setidaknya sebagian. Tanpa itu, kita sepenuhnya menjadi budak nafsu dan kekotoran batin, sehingga kemerosotan dan penderitaan sulit dihindari.
Asisten Zen AI
Aktif