5. la akan menerima akibat buruk dan kelahiran rendah pada kehidupannya yang akan datang. Sungguh singkat kenikmatan yang diperoleh lelaki dan wanita yang ketakutan, dan raja pun akan menjatuhkan hukuman berat. Karena itu, janganlah seseorang berzinah dengan isteri orang lain.
Para murid Gotama selalu sadar, baik siang maupun malam, dan senantiasa bergembira dalam latihan meditasi dan kontemplasi.

Catatan Mendalam

Enam bait Dhammapada sebelumnya diajarkan oleh Buddha di Wihara Hutan Bambu, berkaitan dengan seorang anak laki-laki dari keluarga penjual kayu. Menurut kisahnya, di Rājagaha ada dua anak laki-laki: yang satu adalah anak dari keluarga Buddhis, sedangkan yang lain adalah anak dari keluarga penganut ajaran luar. Mereka sering bermain bola bersama. Karena kebiasaan, setiap kali melempar bola ke atas, anak Buddhis itu selalu melafalkan, “Terpujilah Buddha.” Sebaliknya, anak dari keluarga ajaran luar itu sering melafalkan, “Terpujilah para arahant.” Dalam permainan, anak Buddhis itu sering menang. Anak dari keluarga ajaran luar itu sering kalah, sehingga ia merasa kesal. Ia lalu memperhatikan temannya dan menyadari bahwa anak itu sering menang karena melafalkan, “Terpujilah Buddha.” Maka ia berpikir, “Kalau begitu aku juga akan melakukannya.” Sejak saat itu, ia mulai membiasakan diri mengingat Buddha. Suatu hari, setelah menebang kayu di hutan, ayahnya dan anak itu berhenti di tempat pemakaman di luar kota untuk makan. Menjelang petang, sapi penarik gerobak mereka mengikuti kawanan sapi lain masuk ke kota. Sang ayah berlari untuk menangkap sapi itu kembali, tetapi ketika ia hendak keluar lagi, hari sudah gelap dan gerbang kota telah ditutup. Malam itu anak tersebut terpaksa tidur sendirian di bawah gerobak. Ketika ia sedang tidur, tiba-tiba muncul dua makhluk halus: satu makhluk jahat dan satu makhluk baik. Makhluk jahat itu hendak memakan anak tersebut, tetapi makhluk baik mencegahnya. Namun makhluk jahat tidak mau mendengar dan memegang kedua kaki anak itu, berniat merobek tubuhnya menjadi dua. Pada saat itu, karena kebiasaan yang telah tertanam, anak yang sedang tidur itu tiba-tiba mengucapkan, “Terpujilah Buddha.” Mendengar ucapan itu, makhluk jahat menjadi sangat takut dan mundur. Makhluk baik berkata, “Pasti kita akan dihukum karena perbuatan ini.” Untuk menebus kesalahan, makhluk baik menjaga anak itu sepanjang malam. Sementara itu, makhluk jahat diam-diam masuk ke istana raja, mengambil makanan yang diletakkan di atas piring emas, lalu membawanya keluar. Kedua makhluk itu kemudian merawat anak tersebut seperti orang tua yang penuh kasih. Sebelum pergi, mereka menggunakan kekuatan gaib untuk menulis pesan di atas piring itu, menceritakan seluruh peristiwa dan menyatakan bahwa hanya raja yang dapat membacanya. Keesokan paginya, orang-orang di istana menyadari bahwa piring emas telah hilang. Mereka mencari ke segala tempat, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya, mereka menemukan piring itu di atas gerobak anak tersebut dan membawa anak itu ke istana untuk diperiksa. Setelah membaca pesan di piring itu, raja sangat terkejut dan bertanya, “Apa maksud semua ini?” Anak itu sendiri tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada malam sebelumnya. Ayah anak itu, ketika mendengar kabar tersebut dan datang ke tempat itu, juga tidak mengerti apa yang terjadi. Setelah itu, raja membawa ayah dan anak itu menghadap Buddha. Raja bertanya kepada Buddha, “Yang Mulia, apakah mengingat Buddha merupakan suatu perlindungan, ataukah mengingat Dharma dan hal-hal lain juga dapat memberikan perlindungan?” Buddha menjawab, “Wahai Baginda, mengingat Buddha bukanlah satu-satunya cara yang bermakna sebagai perlindungan. Seorang Buddhis sejati yang mempraktikkan secara mendalam perenungan terhadap enam objek ingatan tidak memerlukan perlindungan lain, tidak memerlukan mantra, jampi, ataupun ramuan obat.” Karena peristiwa itulah Buddha mengucapkan bait-bait tersebut. Jika kita menganalisis bait 296, kita melihat bahwa sabda Buddha mengandung ungkapan-ungkapan yang sangat penting. Buddha mengajarkan bahwa kita harus “selalu sadar akan diri sendiri.” Ajaran ini adalah inti dari seluruh latihan. Kesadaran sama artinya dengan perhatian benar. Masalah perhatian benar telah muncul di beberapa bait sebelumnya dan telah dijelaskan secara singkat. Dapat dikatakan bahwa seseorang yang berlatih Buddhadharma tetapi tidak memiliki perhatian benar atau kesadaran bukanlah benar-benar seorang praktisi Buddhis. Apakah seorang praktisi memiliki kedamaian dan kebahagiaan atau tidak, semuanya bergantung pada ada atau tidaknya perhatian benar dan kesadaran. Jika kehilangan perhatian, muncullah penderitaan, sebab kehilangan perhatian berarti kehilangan diri sendiri. Memiliki perhatian berarti hadir sepenuhnya, baik jasmani maupun batin, tepat pada saat kini. Orang yang memiliki perhatian mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi. Arti kata “perhatian” atau “kesadaran” adalah “mengetahui.” Mengetahui berarti menyentuh realitas secara jelas, tanpa melalui pertimbangan dan pembedaan dari kesadaran konseptual. Bila kesadaran konseptual ikut campur, muncullah ribuan konsep yang terpecah-pecah. Sejak saat itu, segala sesuatu berputar mengikuti kesadaran yang membeda-bedakan, dan dengan demikian kita kehilangan diri sendiri. Karena itu, seorang praktisi yang ingin terbebas harus selalu sadar akan dirinya. Untuk memiliki kesadaran, latihan harus dilakukan “baik siang maupun malam.” Kita harus terus-menerus merenung dan melihat kembali ke dalam diri. Jika praktik masih dibatasi oleh waktu tertentu, maka praktik itu masih bergantung pada jadwal yang ditetapkan. Seorang praktisi sejati tidak membatasi latihan hanya pada waktu ibadah atau meditasi formal, tetapi berusaha melatih kontemplasi dan kesadaran pada setiap waktu dan di setiap tempat. Dengan demikian barulah dapat diharapkan pencerahan dan pembebasan. Selanjutnya Buddha mengajarkan “senantiasa mengingat Buddha.” Mengingat memiliki dua makna: mengingat dan mengetahui. Buddha berarti Yang Tercerahkan. Mengingat Buddha juga memiliki dua tingkat: yang mendalam dan yang dangkal. Makna mendalamnya adalah selalu mengingat kembali sifat sadar dalam diri sendiri. Makna dangkalnya adalah mengingat Buddha sebagai sosok di luar diri. Misalnya, praktisi Tanah Murni selalu mengingat Buddha Amitābha melalui wujud suci-Nya. Karena selalu mengingat seperti itu, kekotoran batin tidak memiliki kesempatan untuk muncul. Bila kekotoran batin tidak muncul, batin menjadi tenang, hening, dan bahagia. Itulah makna dangkal dari “mengingat.” Adapun makna mendalam dari “mengetahui” adalah bahwa kita mengetahui segala sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kita dengan batin yang jernih, murni, dan hadir. Itu juga berarti mengingat Buddha dalam makna yang mendalam. Siapa pun yang selalu mengingat dengan cara demikian akan terbebas, meskipun tidak secara sengaja mengejar pembebasan. Pembebasan itu terjadi dalam kehidupan saat ini, bukan harus menunggu masa depan, sebab kita benar-benar telah kembali hidup dalam sifat sadar kita sendiri. Dalam bait 297, Buddha mengajarkan makna yang serupa, tetapi yang berbeda adalah “senantiasa mengingat Dharma.” Dharma berarti ajaran. Makna kata Dharma sangat luas, tetapi di sini Buddha terutama menunjuk pada Empat Kebenaran Mulia atau Dharma sejati. Selain mengingat Buddha, seorang Buddhis juga harus terus memberi perhatian pada pembelajaran Dharma sejati. Dharma sejati adalah ajaran Buddha yang menuntun makhluk untuk merealisasi kebenaran, melampaui segala penderitaan kelahiran dan kematian, serta memasuki Nirvāṇa yang bebas. Selain itu, dari sisi hakikat batin, Dharma juga berarti kebijaksanaan, belas kasih, kesetaraan, kesabaran, sikap mengutamakan orang lain, dan sebagainya. Jika kita terus mengingat, merenungkan secara mendalam, dan mengembangkan tindakan sesuai dengan kualitas-kualitas ini, hidup kita juga akan menjadi damai, bahagia, dan terbebas. Itu juga berarti bahwa kita telah pandai kembali berlindung pada hakikat Dharma dalam diri sendiri. Dalam bait 298, Buddha mengingatkan kita untuk senantiasa mengingat Saṅgha. Saṅgha berarti komunitas yang harmonis, yaitu kelompok praktisi yang hidup dan belajar bersama dalam semangat saling menghormati, saling mengasihi, dan hidup rukun, menjalankan makna dari enam prinsip keharmonisan. Artinya, kita harus sungguh-sungguh hidup dalam “pengertian” dan “cinta kasih” sebagai saudara se-Dharma. Itu adalah sisi bentuk luar. Adapun dari sisi prinsip batin, setiap orang sesungguhnya sudah memiliki hakikat yang murni dan harmonis, yaitu guru asal dalam dirinya. Jika kita mampu kembali mengenali dan selalu hidup selaras dengan sifat murni ini, maka itulah arti sejati berlindung pada Saṅgha dalam diri sendiri. Singkatnya, tiga bait 296, 297, dan 298 dimaksudkan oleh Buddha untuk mengingatkan umat Buddhis agar merenungkan dan memiliki keyakinan mendalam kepada Tiga Permata: Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Seorang Buddhis harus hidup dengan memadukan secara harmonis aspek lahiriah dan aspek batiniah dari Tiga Permata. Jika dapat selalu hidup demikian, barulah ia pantas disebut murid Buddha, dan barulah ia sungguh-sungguh memiliki kehidupan yang mengarah ke atas, damai, dan terbebas. Dalam bait 299, Buddha mengajarkan kita untuk “senantiasa mengingat tubuh.” Ajaran ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita agar terus memperhatikan dan merenungkan tubuh yang tidak murni dan tidak kekal. Ini adalah metode kontemplasi yang bertujuan memutus keserakahan dan kemelekatan terhadap tubuh sendiri maupun tubuh orang lain. Kontemplasi ini juga memiliki tingkat dangkal dan dalam, tetapi pada intinya tidak lepas dari lima pengamatan: merenungkan ketidakmurnian asal-usul tubuh; merenungkan ketidakmurnian tempat tubuh berdiam; merenungkan ketidakmurnian ciri-ciri tubuh; merenungkan ketidakmurnian unsur tubuh; dan merenungkan ketidakmurnian akhir tubuh. Dengan mengamati secara bertahap seperti itu, praktisi menjadi jemu terhadap kemelekatan pada tubuhnya sendiri. Dari sana, segala bentuk keinginan terhadap tubuh, terutama keterikatan pada nafsu indria, akan sangat berkurang. Namun Buddha mengajarkan kontemplasi ketidakmurnian agar kita melihat kemurnian di balik kemelekatan, bukan agar kita menjadi muak terhadap hidup sampai ingin mencelakai diri sendiri. Pikiran seperti itu bertentangan dengan maksud ajaran Buddha. Perlu diingat bahwa tujuan utama kontemplasi ini adalah untuk menanggulangi orang-orang yang terlalu kuat melekat pada nafsu indria. Dengan demikian, tubuh dan batin mereka menjadi ringan, dan mereka dapat hidup damai serta bahagia. Dalam bait 300, Buddha mengajarkan umat Buddhis untuk “senantiasa bergembira dalam tidak membunuh.” Ajaran ini menekankan disiplin moral. Di antara lima sila bagi umat Buddhis awam, sila untuk tidak membunuh berada di urutan pertama. Yang terutama dilarang Buddha adalah membunuh manusia; dari sana praktiknya diperluas secara bertahap kepada makhluk hidup lainnya, sejauh kemampuan masing-masing. Mengapa Buddha mengatakan agar kita selalu bergembira dalam tidak membunuh? Hal ini mudah dipahami. Ketika kita tidak membunuh makhluk hidup, tentu kita menghindari akibat karma berupa permusuhan, balas dendam, dan saling membayar kembali penderitaan dalam kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Dalam kehidupan sekarang, ke mana pun kita pergi, kita tidak perlu takut ada orang yang mengintai untuk mencelakai kita. Dengan demikian, kita benar-benar memiliki kegembiraan, kebebasan, dan ketenteraman. Selain itu, tubuh kita lebih sedikit mengalami penyakit dan dapat hidup lebih lama. Itu juga merupakan kegembiraan besar berkat kemampuan kita menjaga sila tidak membunuh. Dalam bait 301, Buddha mengajarkan umat Buddhis untuk “senantiasa senang mempraktikkan meditasi dan kontemplasi.” Meditasi dan kontemplasi sangat penting bagi orang yang mengikuti jalan Buddha. Hal ini telah beberapa kali dibicarakan dalam bait-bait sebelumnya, sehingga di sini cukup disampaikan secara ringkas. Dapat dikatakan bahwa meditasi dan kontemplasi adalah pintu menuju rumah pencerahan dan pembebasan. Seorang praktisi yang tidak memiliki meditasi dan kontemplasi bagaikan orang memasak tanpa garam. Karena itu, dalam Buddhisme meditasi dan kontemplasi sangat ditekankan. Apa pun metode latihan yang dipilih seorang praktisi, ia tetap memerlukan samādhi. Tanpa samādhi, bagaimana kebijaksanaan dapat muncul? Samādhi dan kebijaksanaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Berkat samādhi, batin menjadi jernih dan murni. Dengan demikian, seorang Buddhis akan memperoleh kedamaian dan terbebas dari segala penderitaan, baik pada masa kini maupun masa yang akan datang. Dari kisah singkat di atas, kita memperoleh pelajaran yang patut diingat tentang kebiasaan melafalkan nama Buddha. Anak dari keluarga ajaran luar itu, saat bermain bola, merasa harga dirinya terluka karena terus kalah. Ia berpikir bahwa ia kalah karena anak Buddhis itu sering mengingat Buddha dan karenanya mendapat dukungan Buddha. Karena berpikir demikian, ia menirunya. Berkat kebiasaan itu, bahkan dalam mimpi pun ia mengucapkan nama Buddha dengan suara. Karena itulah ia terhindar dari bahaya makhluk jahat yang hendak memakannya. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki kebiasaan mengingat Buddha tentu akan terhindar dari banyak mara bahaya. Bukan hanya itu, kebiasaan tersebut juga membawa banyak manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 301. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?