14. Bagi orang yang memiliki keyakinan dan sila yang sempuma, akan memperoleh nama harum dan kekayaan, pergi ke tempat manapun ia akan selalu dihormati.
Lenyapkanlah ibu, yaitu nafsu keinginan, dan ayah, yaitu kesombongan diri; lenyapkanlah dua raja kesatria, yaitu dua pandangan ekstrem; hancurkanlah kerajaan beserta para pejabatnya, yaitu landasan indra dan kenikmatan duniawi; maka orang suci berjalan menuju keadaan tanpa duka.

Catatan Mendalam

Dua bait ini diajarkan oleh Buddha di Wihara Jetavana dan berkaitan dengan Yang Mulia Lakuntaka Bhaddiya. Menurut kisah tradisional: “Pada suatu masa, Sang Bhagavā sedang berdiam di Jetavana. Sejumlah bhikkhu datang mengunjungi Beliau. Setelah bersujud memberi hormat, mereka dengan penuh hormat mundur dan duduk di satu sisi. Pada saat itu, Yang Mulia Lakuntaka Bhaddiya berjalan lewat tidak jauh dari tempat itu. Mengetahui keadaan batin para bhikkhu pada saat yang tepat, Buddha memandang Yang Mulia itu lalu berkata kepada para bhikkhu: ‘Lihatlah ke sana! Itulah bhikkhu yang telah membunuh ayah dan ibu, dan telah terbebas dari penderitaan.’ ‘Apa yang dikatakan Sang Bhagavā?’ seru para bhikkhu. Mereka saling berpandangan dengan ragu, lalu bertanya kepada Buddha: ‘Bhante, apa yang baru saja Engkau katakan?’ Buddha kemudian membabarkan dua bait ini. Setelah mendengarnya, para bhikkhu mencapai tingkat arahant.” Makna utama dari dua bait ini adalah bahwa Buddha mengajarkan: seorang praktisi yang ingin mencapai pembebasan harus melenyapkan ketidaktahuan batin dan nafsu keinginan. Keduanya merupakan daya pendorong yang membuat makhluk menciptakan karma dan terus terlahir kembali dalam lingkaran kelahiran dan kematian yang penuh penderitaan. Pada saat yang sama, Buddha juga mengajarkan: “Lenyapkan dua garis keturunan brahmana,” yang berarti memutus dua jenis pandangan keliru: pandangan kekekalan dan pandangan pemusnahan. Keduanya adalah doktrin dari dua aliran non-Buddhis pada masa Buddha. Aliran yang menganut pandangan kekekalan berpendapat bahwa ada jiwa yang abadi. Sebaliknya, aliran yang menganut pandangan pemusnahan berpendapat bahwa setelah kematian manusia lenyap sepenuhnya, tanpa jiwa dan tanpa kelahiran kembali di kehidupan berikutnya. Ungkapan “melenyapkan kerajaan” berarti memutus dua belas landasan indra, yaitu enam indra—mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin—serta enam objek indra—bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan objek batin. Adapun “para menteri” menunjuk pada kenikmatan duniawi dari lima indra. “Menuju brahmana yang bebas duka” berarti menuju buah arahant, keadaan ketika semua noda batin telah habis. “Melenyapkan pula jenderal bagaikan harimau, yaitu keraguan” berarti memutus lima rintangan batin. Lima rintangan itu ialah nafsu indriawi, niat jahat, kemalasan dan kantuk, kegelisahan dan penyesalan, serta keraguan. Kelima hal ini menghalangi usaha meditasi seorang praktisi. Semuanya juga termasuk noda batin yang berbahaya, memiliki kekuatan besar, dan menjadi hambatan berat bagi praktisi dalam menempuh jalan latihan menuju buah suci. Terutama noda batin yang disebut “keraguan”. Keraguan adalah keadaan batin yang tidak tegas; sifatnya adalah bimbang dan meragukan kebenaran, dan fungsinya adalah menghalangi keyakinan serta pencapaian langsung terhadap kebenaran. Jika membaca kisah di atas, kita mungkin merasa kisah itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya tidak mudah untuk dipraktikkan. Buddha menunjuk Yang Mulia Lakuntaka Bhaddiya kepada para bhikkhu dan berkata bahwa ia telah membunuh ayah dan ibu serta telah terbebas dari penderitaan. Mendengar Buddha berbicara dengan cara yang begitu tidak biasa, para bhikkhu menjadi terkejut, heran, dan ragu. Mengapa bhikkhu itu membunuh ayah dan ibunya? Semua orang tahu bahwa perbuatan demikian termasuk salah satu dari lima kejahatan paling berat, yang mengarah pada kelahiran kembali di neraka Avīci. Namun setelah mereka mendengar Buddha menjelaskan dengan lebih jelas melalui dua bait tersebut, batin mereka menjadi terang, semua keraguan lenyap, dan saat itu juga mereka mencapai buah suci arahant.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 294. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?