14. Orang baik, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan hal-hal yang jahat. Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan menyeretmu ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan.
Bagaikan karat yang timbul dari besi lalu memakan besi itu sendiri, demikian pula perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan oleh seseorang akan menyeretnya ke dalam alam kesengsaraan.

Catatan Mendalam

Buddha membabarkan bait ini di Vihara Jetavana mengenai Thera Tissa. Dikisahkan bahwa Tissa adalah seorang biksu muda dari keluarga kaya yang menerima selembar kain kasar dari seorang penyokong. Kakak perempuannya mengurai dan menenun kembali kain tersebut menjadi jubah yang sangat halus dan indah. Tissa sangat menyukai jubah baru tersebut dan berniat memakainya keesokan hari. Namun, malam itu ia mendadak meninggal dunia karena salah cerna. Akibat kemelekatan yang kuat pada jubah baru itu, ia langsung terlahir kembali menjadi seekor kutu di dalam jubah tersebut. Ketika para biksu lain hendak membagikan jubah peninggalannya, kutu tersebut marah dan berteriak bahwa mereka merampas hartanya. Dengan mata batin-Nya, Buddha meminta para biksu untuk menunda pembagian jubah selama tujuh hari. Pada hari ketujuh, kutu tersebut mati dan terlahir di alam surga Tusita. Barulah pada hari kedelapan Buddha mengizinkan jubah itu dibagikan, seraya menjelaskan bahwa jika jubah itu dibagikan lebih awal, kemarahan si kutu akan menyeretnya langsung jatuh ke neraka.

Kisah dan bait ini mengilustrasikan bagaimana penderitaan muncul dari karma buruk yang digerakkan oleh pikiran. Buddha menggunakan perumpamaan yang sangat nyata: seperti karat yang tumbuh pada besi lalu merusak besi itu sendiri, demikian pula karma buruk yang diciptakan seseorang akan menyeretnya ke alam sengsara (neraka, alam peta, atau hewan). Tidak ada kekuatan luar yang menghukum kita; perbuatan kita sendirilah yang menjadi penyebabnya, laksana seorang kriminal yang masuk penjara karena tindakannya sendiri. Kemelekatan Thera Tissa pada selembar jubah hingga terlahir menjadi kutu menjadi peringatan keras mengenai bahaya laten dari karma menjelang ajal (maranasanna-kamma). Oleh karena itu, seorang praktisi harus rajin melatih meditasi melepas (buông xả) agar tidak ada kemelekatan atau kebencian yang tersisa saat ajal tiba, sehingga batin tetap murni dan meraih alam kelahiran yang baik.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 240. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?