7. Tidak membaca ulang adalah noda bagi mantra, tidak berusaha adalah noda bagi kehidupan rumah tangga. Kemalasan adalah noda bagi kecantikan, dan kelengahan adalah noda bagi seorang penjaga.
Jagalah pikiran dari kemarahan, kendalikanlah pikiran dengan murni. Tinggalkanlah perbuatan salah melalui pikiran, dan pratikkanlah kebajikan melalui pikiran.

Catatan Mendalam

Buddha membabarkan syair-syair ini di Vihara Veluvana (Hutan Bambu) sehubungan dengan sekelompok enam bhikkhu (Chabbaggiya). Suatu hari, kelompok enam bhikkhu ini mengenakan bakiak kayu dan berjalan mondar-mandir dengan berisik di atas lempengan batu sambil mengetukkan tongkat mereka. Mendengar suara gaduh tersebut, Buddha bertanya kepada Yang Mulia Ananda. Ananda menjelaskan bahwa perilaku kelompok enam bhikkhu itulah yang menyebabkan suara tersebut. Buddha kemudian menasihati: 'Seorang bhikkhu harus mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatannya.' Melalui syair-syair ini, Buddha menjelaskan pentingnya menjaga tiga pintu tindakan (tiga karma): tubuh, ucapan, dan pikiran. Kebahagiaan dan penderitaan bersumber dari ketiga karma ini. Ketika pikiran memikirkan kebajikan, energi kasih sayang dan pengertian akan muncul, membawa kedamaian seketika. Sebaliknya, membiarkan niat buruk tanpa kewaspadaan akan memicu tindakan buruk melalui tubuh dan ucapan yang langsung membuahkan penderitaan. Orang bijak akan menaklukkan dan mentransformasikan ketiga karma ini dengan mempraktikkan Sila (Kemoralan), Samadhi (Konsentrasi), dan Panna (Kebijaksanaan) demi kebahagiaan di kehidupan sekarang dan mendatang.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 233. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?