5. Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan: bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta. tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.
Barangsiapa telah mencicipi nikmatnya kesunyian dan kedamaian, ia akan bebas dari rasa takut dan dosa, serta menikmati kebahagiaan dalam Dhamma.

Catatan Mendalam

Sang Buddha membabarkan ayat ini di Vesali terkait dengan seorang bhikkhu bernama Tissa. Ketika mendengar bahwa Sang Buddha akan segera mencapai Parinibbana, para bhikkhu diliputi kesedihan, kecuali para Arahant yang telah memahami hakikat ketidakkekalan. Tissa, sebaliknya, memilih untuk mengasingkan diri, bertekad mencapai tingkat kesucian Arahant selagi Sang Buddha masih hidup. Ketika ditanya, ia menjelaskan tujuannya, yang kemudian dipuji oleh Sang Buddha. Ini adalah pelajaran bahwa cara terbaik untuk membalas budi guru bukanlah dengan tangisan, melainkan dengan ketekunan dalam praktik Dharma. Hidup menyendiri (hidup tenang) adalah cara untuk menenangkan pikiran, melenyapkan kekotoran batin, dan merasakan kebahagiaan pembebasan spiritual.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 205. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?