11. Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa. Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati. Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi, dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya.
Siapa pun yang dahulunya lengah namun kemudian menjadi tekun, ia menerangi dunia ini laksana bulan yang terbebas dari awan.

Catatan Mendalam

Kisah ini terjadi di Jetavana mengenai Thera Sammunjani, yang selalu sibuk membersihkan wihara. Ia sempat menegur Thera Revata karena sering duduk diam, menganggapnya tidak bekerja dan menyia-nyiakan dana persembahan umat. Namun, Thera Revata menyadarkannya bahwa ketekunan sejati (virya) bukan hanya soal pekerjaan fisik, tetapi tentang meditasi dan pembersihan batin. Setelah itu, Sammunjani fokus bermeditasi dan mencapai tingkat kesucian Arahat. Sang Buddha memujinya, mengatakan bahwa seseorang yang dulunya lengah namun kemudian menjadi tekun, ia menerangi dunia ini seperti bulan yang terbebas dari awan. Pesan utamanya adalah bahwa bagi seorang praktisi, kesibukan eksternal tanpa perhatian penuh (mindfulness) dan meditasi bisa menjadi bentuk kelalaian. Ketekunan sejati adalah proses refleksi diri yang mendalam untuk memadamkan kotoran batin seperti keserakahan, kebencian, dan delusi.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 172. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?