4. Barangsiapa dapat melihat dunia ini seperti halnya ia melihat busa ataupun fatamorgana, maka Raja Kematian tidak akan dapat menemukan dirinya.
Kejahatan dilakukan oleh diri sendiri, seseorang menjadi kotor oleh diri sendiri. Kejahatan tidak dilakukan oleh diri sendiri, seseorang menjadi suci oleh diri sendiri. Kesucian dan kekotoran bergantung pada diri sendiri; tidak ada orang yang dapat menyucikan orang lain.

Catatan Mendalam

Sang Buddha menyampaikan ajaran ini di Hutan Jeta mengenai umat awam Culla Kala. Suatu hari, seorang pencuri melemparkan barang curian di dekatnya. Orang-orang mengira Culla Kala adalah pencurinya dan hendak memukulinya. Beruntung, beberapa pelacur yang melihat kejadian tersebut bersaksi bahwa ia tidak bersalah, sehingga ia selamat. Mengetahui hal ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa Culla Kala selamat bukan hanya karena saksi, tetapi pada dasarnya karena ia memang tidak bersalah. Makhluk-makhluk menderita di alam bawah karena karma buruk mereka sendiri, tetapi melalui perbuatan baik, mereka menyelamatkan diri mereka sendiri menuju alam surga atau Nirwana.

Semua penderitaan dan kebahagiaan diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Tindakan salah berasal dari pikiran yang penuh delusi, sementara perbuatan baik muncul dari pikiran yang murni. Sang Buddha menekankan tanggung jawab pribadi: tidak ada orang lain yang dapat menyucikan atau mengikat kita. Jika kita tidak mengendalikan pikiran buruk, penderitaan akan mengikuti. Praktik sejati adalah senantiasa merenungi diri dan membuang niat buruk. Sebagaimana ajaran Buddha Kassapa: "Jangan berbuat jahat, perbanyaklah perbuatan baik, sucikan hati dan pikiran; inilah ajaran semua Buddha." Pada akhirnya, surga maupun Nirwana berada di dalam pikiran kita sendiri.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 165. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?