1. Janganlah mcngejar sesuatu yang rendah; janganlah hidup dalam kelengahan; janganlah menganut pandangan- pandangan salah, dan janganlah terikat pada keduniawian. 2 Bangun! Jangan lengah! Tempuhlah kehidupan benar. Barangsiapa menempuh kehidupan benar, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya. ♦
Melakukan perbuatan buruk sangatlah mudah namun tidak membawa manfaat apa pun. Sebaliknya, perbuatan baik yang membawa manfaat sangatlah sulit untuk dilakukan.

Catatan Mendalam

Sang Buddha menyampaikan syair ini di Vihara Hutan Bambu mengenai Devadatta. Ananda melaporkan bahwa Devadatta berniat memecah belah Sangha dan memimpin kelompoknya sendiri. Mendengar hal ini, Sang Buddha menyatakan bahwa perbuatan baik mudah dilakukan oleh orang baik tetapi sulit bagi orang jahat, sedangkan perbuatan buruk mudah dilakukan oleh orang jahat tetapi sulit bagi orang baik.

Di dunia di mana tindakan buruk merajalela, kedamaian sejati membutuhkan transformasi batin. Kedamaian dunia dimulai dari kultivasi diri, khususnya mengubah pikiran yang penuh delusi dan tidak bajik. Upaya Devadatta untuk menyakiti Sang Buddha dan memecah belah Sangha berawal dari delusi tersebut, yang pada akhirnya membawa pada kehancurannya sendiri.

Melakukan kejahatan sama mudahnya dengan meluncur di lereng, sementara melakukan kebaikan sama beratnya dengan mendaki gunung. Kehidupan ini singkat, namun manusia sering bertindak egois, lupa bahwa harta benda tidak bisa dibawa mati. Praktik spiritual yang sejati melibatkan perbuatan baik tanpa kemelekatan pada hasil atau reputasi—mewujudkan jalan Bodhisattva. Dengan menjunjung tinggi sila dan berkontribusi pada masyarakat, seseorang membangun kehidupan yang penuh sukacita dan tanpa penyesalan.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 163. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?