10. Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tak ada ikannya.
Bahkan kereta kerajaan yang sangat indah pun akan usang, dan sesungguhnya tubuh ini pun akan menua. Namun, Dhamma dari Orang Suci tidak akan pernah menua; demikianlah orang suci mewariskannya kepada orang suci lainnya.
Catatan Mendalam
Sang Buddha mengajarkan syair ini di Hutan Jeta mengenai Ratu Mallika. Meskipun ia adalah pengikut yang taat, ia pernah melakukan dosa besar dan berbohong kepada Raja untuk menutupinya. Ia membawa rasa bersalah ini hingga kematiannya, yang menyebabkannya terlahir di alam penderitaan selama tujuh hari sebelum naik ke surga Tusita. Raja Pasenadi yang berduka mencari penghiburan dari Sang Buddha. Sang Buddha menggunakan kereta-kereta kerajaan sebagai perumpamaan: bahkan kereta yang paling indah pun pada akhirnya akan menua dan usang, sama seperti tubuh manusia. Tidak peduli berapa banyak kekayaan yang dihabiskan untuk mempercantik bentuk fisik, ia tunduk pada hukum ketidakkekalan yang tidak dapat dihindari. Namun, Sang Buddha menekankan bahwa "Dhamma"—kebenaran sejati dan perbuatan bajik—tidak pernah menua atau binasa. Hal-hal materi dan tubuh fisik akan memudar, tetapi karma baik dan pencapaian spiritual akan bertahan dan diwariskan dari orang bijak kepada orang bijak lainnya.
Ayat 151 dari Dhammapada, "Bahkan kereta kerajaan yang sangat indah pun akan usang, dan sesungguhnya tubuh ini pun akan menua. Namun, Dhamma dari Orang Suci tidak akan pernah menua; demikianlah orang suci mewariskannya kepada orang suci lainnya," mengajarkan tentang ketidakkekalan.
Ayat ini menggunakan perumpamaan kereta kerajaan yang megah untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu yang bersifat materi, termasuk tubuh kita, pada akhirnya akan menua dan rusak. Tidak peduli seberapa banyak kita mencoba mempertahankan atau mempercantik fisik, ia tetap tunduk pada hukum ketidakkekalan.
Namun, Sang Buddha menekankan bahwa Dhamma—kebenaran sejati dan perbuatan bajik—tidak akan pernah menua atau binasa. Ini berarti bahwa nilai-nilai spiritual, kebijaksanaan, dan karma baik yang kita kumpulkan akan bertahan melampaui usia fisik dan diwariskan dari satu orang bijak kepada orang bijak lainnya.
Apa yang Anda renungkan dari ketidakkekalan ini?
🌿
Asisten Zen AI
Aktif
Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 151. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?
⭐
Simpan Ayat Favorit
Untuk menyimpan dan meninjau ayat-ayat Dhammapada favorit Anda kapan saja, silakan masuk ke WebApp atau aplikasi TU.