17. Pembuat saluran air mengaturjalannya air, tukang panah meluruskan anak panah, tukang kayu melekungkan kayu; orang bajik mengendalikan dirinya sendiri. I I
Bukan dengan bertelanjang, rambut gimbal, kotoran, berpuasa, tidur di tanah, melumuri badan dengan abu, atau berjongkok (bertapa) seseorang dapat menjadi suci, jika ia belum mengatasi keragu-raguannya.

Catatan Mendalam

Sang Buddha mengajarkan syair ini di Hutan Jeta tentang menteri Santati. Diberi hadiah kekuasaan selama tujuh hari oleh Raja Pasenadi, Santati menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Ketika penari kesayangannya tiba-tiba meninggal, ia dilanda kesedihan mendalam dan pergi menemui Sang Buddha. Setelah mendengarkan Dhamma, ia menyadari ketidakkekalan hidup, seketika mencapai tingkat Arahat, dan tak lama kemudian meninggal dunia. Meskipun para biksu lain meragukan bagaimana seorang yang suka berpesta dapat mencapai pencerahan, Sang Buddha menjelaskan bahwa karma masa lalunya telah matang. Kisah ini menggambarkan bahwa kesenangan duniawi pasti menyimpan penderitaan. Namun, kesedihan ekstrem terkadang dapat memicu pencerahan yang mendalam—mengubah bencana menjadi berkah. Sang Buddha menekankan bahwa seorang praktisi sejati harus tekun mengamati dan mengendalikan pikiran. Seperti yang diajarkan oleh para guru agung masa lalu, kewajiban utama adalah merenungkan diri sendiri, dan pandangan yang benar adalah melihat kesalahan diri sendiri, bukan kesalahan orang lain. Baik biksu maupun umat awam, siapa pun yang dengan tulus memurnikan pikirannya, menghindari menyakiti makhluk lain, dan memupuk kasih sayang, dapat mencapai kebebasan.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 141. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?