6. I lendaklah ia tidak mencela apa yang telah la peroleh, juga hendaklah ia tidak inerasa iri terhadap apa yang telah diperoleh orang lain. Seorang bhikkhu yang merasa ini terhadap apa yang diperoleh orang lain, tidak akan dapat mencapai perkembangan dalam samadi.
Pemberian Dhamma melampaui segala pemberian; rasa Dhamma melampaui segala rasa; kegembiraan dalam Dhamma melampaui segala kegembiraan. Penghancuran nafsu keinginan mengatasi segala penderitaan.

Catatan Mendalam

Syair ini diajarkan Buddha di Vihara Jetavana, mengenai raja dewa Sakka (Indra). Suatu hari, para dewa dari Surga Tiga Puluh Tiga berkumpul dan mengajukan empat pertanyaan: "Apakah benda yang paling berharga?" "Apakah rasa tertinggi?" "Apakah kebahagiaan tertinggi?" "Mengapa penghancuran nafsu keinginan adalah tindakan terpenting?" Tidak ada dewa yang bisa menjawab. Mereka bepergian ke mana-mana tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Akhirnya mereka pergi ke empat raja dewa penjaga dunia, yang juga tidak bisa menjawab. Kemudian mereka semua pergi kepada Sakka, yang mengakui ketidakmampuannya dan mengatakan hanya Sang Bhagava yang bisa menjawab. Mereka semua pergi menemui Buddha di Vihara Jetavana. Buddha menjawab: "Pemberian Dhamma melampaui segala pemberian; rasa Dhamma melampaui segala rasa; kegembiraan dalam Dhamma melampaui segala kegembiraan. Nafsu keinginan yang dihancurkan mengatasi segala penderitaan." Sakka kemudian memohon agar Buddha mendedikasikan jasa pemberian Dhamma ini kepada mereka. Buddha mengumpulkan para bhikkhu dan menyatakan bahwa mulai saat itu, di akhir setiap ajaran Dhamma, mereka harus mendedikasikan jasa pemberian Dhamma kepada semua makhluk. Di antara semua bentuk pemberian yang bermanfaat bagi makhluk, hanya pemberian Dhamma yang memiliki kekuatan untuk membimbing makhluk menuju kebangkitan dan kebebasan. Ajaran Buddha, meskipun bervariasi sesuai dengan kapasitas setiap makhluk, semuanya bertujuan pada satu tujuan: untuk membuka kebijaksanaan Buddha sehingga semua makhluk dapat merealisasikan kebebasan sempurna. Rasa Dhamma adalah cita rasa merealisasikan kebenaran. Hidup sesuai dengan kebenaran, bahkan jika belum sepenuhnya, membawa kedamaian yang jauh lebih besar daripada mengejar ilusi duniawi yang hanya menciptakan kekacauan. Rasa duniawi hanya mengarah pada keterikatan dan penderitaan. Kegembiraan Dhamma adalah kegembiraan tulus, ringan, dan damai yang muncul dari mendengarkan Dhamma atau merealisasikan kebenaran keberadaan yang indah. Kebahagiaan duniawi, menurut ajaran Buddha, tidak pernah mencapai yang benar, baik, dan indah. Semua kebahagiaan duniawi hanyalah kenikmatan indria, dan sifat dari semua kenikmatan indria adalah penderitaan. Gelar akademis, kekayaan, status, rumah besar, pasangan cantik, anak-anak yang baik—apakah semua itu benar-benar membawa kebahagiaan sempurna? Menurut ajaran Buddha, jalan yang membimbing makhluk menuju cakrawala kebahagiaan adalah jalan perhatian penuh, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Perhatian penuh adalah mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada saat sekarang. Konsentrasi adalah menghentikan semua pikiran yang melayang. Kebijaksanaan adalah kebijaksanaan jernih dan murni yang sesuai dengan kebenaran. Hanya jalan inilah yang membimbing makhluk menuju kebangkitan, kedamaian, dan kebebasan, dan itulah yang benar-benar mencapai puncak kebahagiaan sejati. Terakhir, mengapa menghancurkan nafsu keinginan adalah tindakan terpenting? Karena nafsu keinginan adalah akar dari semua penderitaan. Menghancurkan nafsu keinginan mengakhiri semua penderitaan. Buddha mengulangi hal ini berkali-kali, karena inti dari bab ini adalah untuk mengungkapkan semua aspek nafsu keinginan sehingga kita dapat mengenali bahayanya dan segera menghilangkannya. Hanya dengan demikian kita dapat berharap untuk melepaskan diri dari siklus kelahiran dan kematian.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 354. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?