1. Pikiran itu mudah goyah dan tidak.tetap, sulit di jaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan meluruskannya, bagaikan seorang pembuat'panah meluruskan anak panah.
Biksu yang bergembira dalam kewaspadaan dan memandang kelengahan dengan ketakutan, maju bagaikan api, membakar semua belenggu baik yang kecil maupun yang besar.

Catatan Mendalam

Sang Buddha secara khusus menyampaikan ajaran ini kepada para monastik yang telah ditahbiskan penuh (Bhikkhu). Seorang monastik mengambil sumpah yang mendalam: berjuang untuk pencerahan di atas dan menyelamatkan semua makhluk hidup di bawah. Dengan aspirasi yang begitu luhur, bagaimana mungkin mereka bisa menjalani hidup yang lengah? Jika seorang monastik lengah, tujuan pembebasan tidak mungkin tercapai. Oleh karena itu, mereka tidak hanya menjaga kewaspadaan ketat atas diri mereka sendiri, tetapi ketika mereka melihat orang lain hidup dengan lengah, mereka merasakan belas kasih dan keprihatinan yang mendalam. Mereka takut bahwa orang-orang yang lengah itu akan jatuh ke dalam penderitaan, tidak hanya di kehidupan ini tetapi untuk banyak kehidupan yang akan datang. Sang Buddha membandingkan para Bhikkhu yang hidup dengan kewaspadaan, aktif berlatih dan tetap terjaga, dengan api yang berkobar. Api ini memiliki kekuatan untuk membakar semua belenggu dan kekotoran batin, baik yang mengakar kuat maupun kemelekatan kecil.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 31. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?