2. Bila seseorang menjadi bhikkhu dengan mengenakan jubah kuning tetapi masih berkelakuan buruk dan tidak terkendali, maka akibat perbuatan-perbuatan jahatnya sendiri, ia akan masuk ke neraka.
Para pengikut Buddha yang selalu memelihara kesadaran dan mengingat sifat-sifat Sangha, siang dan malam, akan terlindungi, damai, dan terbebaskan dalam kehidupan saat ini.

Catatan Mendalam

Enam bait ajaran ini diajarkan oleh Buddha di Biara Trúc Lâm dan terkait dengan seorang anak laki-laki, putra penebang kayu. Di kota Vương Xá, ada dua anak laki-laki—satu penganut Buddha dan satu dari keluarga non-Buddha—yang sering bermain bola bersama. Anak Buddha selalu mengucapkan “Namo Buddha” ketika melempar bola. Anak non-Buddha mengucapkan “Namo Arahant.” Anak Buddha biasanya menang, dan anak non-Buddha meniru kebiasaan itu. Suatu hari, setelah menebang kayu, anak itu dan ayahnya berhenti di kuburan luar kota untuk makan. Kemudian, sapi mereka bergabung dengan sapi lain masuk kota. Ayah mengejar, tetapi saat kembali gerbang kota sudah tertutup. Malam itu, anak itu tidur sendirian di bawah kereta. Saat tidur, muncul dua roh: satu jahat, satu baik. Roh jahat mencoba menyerang, tetapi roh baik menahan. Roh jahat mengabaikan peringatan dan memegang kaki anak itu. Anak itu, mengikuti kebiasaan, mengucapkan “Namo Buddha” dalam tidur, sehingga roh jahat lari ketakutan. Roh baik berkata mereka akan dihukum dan menjaga anak sepanjang malam. Sementara itu, roh jahat diam-diam mengambil makanan dari istana di piring emas. Kedua roh itu merawat anak seperti orang tua. Sebelum pergi, mereka menulis catatan di piring agar hanya raja yang membacanya. Keesokan harinya, piring emas hilang dari istana. Setelah dicari, ditemukan pada anak itu, yang dibawa ke istana. Raja terkejut dan bertanya. Anak dan ayahnya tidak mengerti apa yang terjadi. Raja kemudian membawa mereka kepada Buddha dan bertanya, “Apakah mengingat Buddha memberi perlindungan, atau mengingat Dharma dan objek lain juga memberi perlindungan?” Buddha menjawab, “Mengingat Buddha bukan satu-satunya cara perlindungan. Praktisi sejati yang mendalami enam objek kontemplasi tidak memerlukan perlindungan eksternal, mantra, atau ramuan.” (Akhir ringkasan). Berdasarkan ini, Buddha mengajarkan bait-bait di atas. Bait 298 menekankan mengingat Sangha. Sangha adalah komunitas harmonis yang hidup menurut Enam Harmoni. Secara eksternal, ini terlihat dari saling pengertian dan kasih sayang antarpraktisi. Secara internal, setiap orang memiliki sifat murni dan harmonis. Menyadari dan hidup selaras dengan sifat murni ini adalah perlindungan sejati dalam Sangha. Esensinya, Buddha mengingatkan pengikut untuk menaruh kepercayaan dan kesadaran dalam Tiga Permata: Buddha, Dharma, Sangha. Hidup selaras dengan prinsip ini menumbuhkan kehidupan yang luhur, damai, dan bebas.

🌿

Asisten Zen AI

Aktif

Selamat datang. Saya asisten Zen AI Anda, di sini untuk membantu Anda merenungkan Ayat 298. Apakah Anda memiliki pertanyaan atau ingin menjelajahi maknanya lebih jauh?